Tempat Berbelanja Oleh-oleh Khas Karesidenan Madiun ( Ngawi - Ponorogo - Pacitan - Madiun - Magetan)
Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Friday, July 22, 2011

Budi Hardjono

Budi Hardjono (lahir di Pacitan, Jawa Timur, 3 September 1939 – meninggal di Jakarta, 4 September 2003 pada umur 64 tahun) adalah seorang politikus asal Indonesia yang juga merupakan anggota dari Partai Demokrasi Indonesia sebagai ketua umum.
Dia meninggal dunia Rabu 3 September 2003 pukul 11.00 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta, dalam usia 64 tahun. Politikus kelahiran Pacitan, Jawa Timur yang masih aktif di dunia kepartaian sampai tutup usia, meninggal karena stroke yang dideritanya sejak 19 Agustus 2003.
Jenazahnya dimakamkan di Blora, Jawa Tengah. Ia meninggalkan seorang istri, Wido Retno dan dua anak, yakni Amelia Diatri dan Ari Tuanggoro serta satu menantu, H Andredan.

J. F. X. Hoery


J.F.X.Hoery (lahir di Pacitan, Jawa Timur, 7 Agustus 1945; umur 65 tahun) adalah seorang penulis Indonesia. Sejak tahun 1962 beliau pindah ke Bojonegoro dan menetap disana hingga sekarang. Karya-karyanya berupa ceritera pendek, cerita sambung, cerita rakyat, cerita misteri, roman sejarah, reportase dan geguritan banyak dimuat di majalah-majalah berbahasa Jawa yang terbit dari tahun 1971 hingga sekarang. Tulisan pertama beliau yang dimuat di majalah dimuat tahun 1960 dalam majalah Taman Putra Panyebar Semangat.

Karya

  • Pagelaran, kumpulan geguritan.
  • Lintang Abyor, antologi.
  • Kabar saka Tlatah Jati, antologi.
  • Banjire Wis Surut, kumpulan cerita pendek.
  • Blangkon, kumpulan cerita pendek bersama penulis Bojonegoro
  • Bojonegoro Ing Gurit, kumpulan geguritan bersama penggurit Bojonegoro.
  • Sosiawan-Sosiawan Kecil, kumpulan crita anak-anak.
  • Permaisuri Yang Cerdik, crita anak-anak
  • Sejarah Gereja Cepu (buku), bersama tim penulis sejarah gereja Cepu.
  • Sejarah Gereja Katolik Rembang (buku)
  • Sejarah Gereja Katolik Blora (buku)
  • Sejarah Gereja Katolik Bojonegoro (buku)
  • Sejarah Gereja Katolik Tuban (buku)

Haryono Suyono


Haryono Suyono, Ph D (lahir di Pacitan, Jawa Timur, 6 Mei 1938; umur 73 tahun) adalah Menko Kesra Kabinet Reformasi Pembangunan. Selain itu ia dikenal sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang terkenal dengan program Keluarga Berencana di era Presiden Soeharto.

Soesilo Bambang Yudhoyono

<

Jend. TNI (Purn.) Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (lahir di Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur, Indonesia, 9 September 1949; umur 61 tahun) adalah Presiden Indonesia ke-6 yang menjabat sejak 20 Oktober 2004. Ia, bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, terpilih dalam Pemilu Presiden 2004. Ia berhasil melanjutkan pemerintahannya untuk periode kedua dengan kembali memenangkan Pemilu Presiden 2009, kali ini bersama Wakil Presiden Boediono. Sehingga, sejak era reformasi dimulai, Susilo Bambang Yudhoyono merupakan Presiden Indonesia pertama yang menyelesaikan masa kepresidenan selama 5 tahun dan berhasil terpilih kembali untuk periode kedua.
Yudhoyono yang dipanggil "Sus" oleh orang tuanya dan populer dengan panggilan "SBY", melewatkan sebagian masa kecil dan remajanya di Pacitan. Ia merupakan seorang pensiunan militer. Selama di militer ia lebih dikenal sebagai Bambang Yudhoyono. Karier militernya terhenti ketika ia diangkat Presiden Abdurrahman Wahid sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada tahun 1999 dan tampil sebagai salah seorang pendiri Partai Demokrat. Pangkat terakhir Susilo Bambang Yudhoyono adalah Jenderal TNI sebelum pensiun pada 25 September 2000. Pada Pemilu Presiden 2004, keunggulan suaranya dari Presiden Megawati Soekarnoputri membuatnya menjadi presiden pertama yang terpilih melalui pemilihan langsung oleh rakyat Indonesia. Hal ini dimungkinkan setelah melalui amandemen UUD 1945.
Dalam kehidupan pribadinya, Ia menikah dengan Kristiani Herrawati yang merupakan anak perempuan ketiga Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo (alm), komandan RPKAD (kini Kopassus) yang turut membantu menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965.

Latar belakang dan keluarga
Ia lahir di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur pada 9 September 1949 dari anak pasangan Raden Soekotjo dan Siti Habibah. Dari silsilah ayahnya dapat dilacak hingga Pakubuwana serta memiliki hubungan dengan trah Hamengkubuwana II[4].
Seperti ayahnya, ia pun berkecimpung di dunia kemiliteran. Selain tinggal di kediaman keluarga di Bogor (Jawa Barat), SBY juga tinggal di Istana Merdeka, Jakarta. Susilo Bambang Yudhoyono menikah dengan Kristiani Herawati yang adalah anak perempuan ketiga Jenderal (Purnawirawan) Sarwo Edhi Wibowo (alm). Komandan militer Jenderal Sarwo Edhi Wibowo turut membantu menumpas PKI (Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1965. Dari pernikahan mereka lahir dua anak lelaki, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (lahir 1978) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lahir 1980).
Agus adalah lulusan dari SMA Taruna Nusantara tahun 1997 dan Akademi Militer Indonesia tahun 2000. Seperti ayahnya, ia juga mendapatkan penghargaan Adhi Mekayasa dan seorang prajurit dengan pangkat Letnan Satu TNI Angkatan Darat yang bertugas di sebuah batalion infantri di Bandung, Jawa Barat. Agus menikahi Anissa Larasati Pohan, seorang aktris yang juga anak dari mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia. Sejak pertengahan 2005, Agus menjalani pendidikan untuk gelar master-nya di Strategic Studies at Institute of Defense and Strategic Studies, Singapura. Anak yang bungsu, Edhie Baskoro lulus dengan gelar ganda dalam Financial Commerce dan Electrical Commerce tahun 2005 dari Curtin University of Technology di Perth, Australia Barat.

Pendidikan
  • Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
  • American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
  • Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
  • Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
  • On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
  • Jungle Warfare School, Panama, 1983
  • Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman, 1984
  • Kursus Komando Batalyon, 1985
  • Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
  • Command and General Staff College, Fort Leavenworth, Kansas, AS
  • Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
  • Doktor dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), tahun 2004
Karier militer
Tahun 1973, ia lulus dari Akademi Militer Indonesia (Akabri: Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dengan penghargaan Adhi Makayasa sebagai murid lulusan terbaik dan Tri Sakti Wiratama yang merupakan prestasi tertinggi gabungan mental, fisik, dan intelek. Periode 1974-1976, ia memulai karier di Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad. Pada tahun 1976, ia belajar di Airborne School dan US Army Rangers, American Language Course (Lackland-Texas), Airbone and Ranger Course (Fort Benning) Amerika Serikat.
Kariernya berlanjut pada periode 1976-1977 di Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad, Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977), Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978, Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981, Paban Muda Sops SUAD (1981-1982. Periode 1982-1984, ia belajar di Infantry Officer Advanced Course (Fort Benning) Amerika Serikat.
Tahun 1983, ia belajar pada On the job training in 82-nd Airbone Division (Fort Bragg) Amerika Serikat, Jungle Warfare School (Panama, Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman pada tahun 1984, Kursus Komando Batalyon (1985) dan meniti karier di Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985), Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988), dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988).
Periode 1988-1989, ia belajar di Sekolah Komando Angkatan Darat dan melanjutkan ke US Command and General Staff College (Fort Leavenwort) Kansas Amerika Serikat pada tahun 1991. Periode (1989-1993), ia bekerja sebagai Dosen Seskoad Korspri Pangab, Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994, Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995) serta Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (1995-1996). Lulusan Master of Art (MA) dari Management Webster University Missouri ini juga meniti karier di Kasdam Jaya (1996), dan Pangdam II/Sriwijaya sekaligus Ketua Bakorstanasda. Pada tahun 1997, ia diangkat sebagai Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI dengan pangkat Letnan Jenderal. Ia pensiun dari kemiliteran pada 1 April 2001 oleh karena pengangkatannya sebagai menteri.

Karier politik
Tampil sebagai juru bicara Fraksi ABRI menjelang Sidang Umum MPR 1998 yang dilaksanakan pada 9 Maret 1998 dan Ketua Fraksi ABRI MPR dalam Sidang Istimewa MPR 1998. Pada 29 Oktober 1999, ia diangkat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi di pemerintahan pimpinan Presiden Abdurrahman Wahid. Setahun kemudian, tepatnya 26 Oktober 1999, ia dilantik sebagai Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) sebagai konsekuensi penyusunan kembali kabinet Abdurrahman Wahid.
Dengan keluarnya Maklumat Presiden pada 28 Mei 2001 pukul 12.00 WIB, Menko Polsoskam ditugaskan untuk mengambil langkah-langkah khusus mengatasi krisis, menegakkan ketertiban, keamanan, dan hukum secepat-cepatnya lantaran situasi politik darurat yang dihadapi pimpinan pemerintahan. Saat itu, Menko Polsoskam sebagai pemegang mandat menerjemahkan situasi politik darurat tidak sama dengan keadaan darurat sebagaimana yang ada dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1959.
Belum genap satu tahun menjabat Menko Polsoskam atau lima hari setelah memegang mandat, ia didesak mundur pada 1 Juni 2001 oleh pemberi mandat karena ketegangan politik antara Presiden Abdurrahman Wahid dan DPR. Jabatan pengganti sebagai Menteri Dalam Negeri atau Menteri Perhubungan yang ditawarkan presiden tidak pernah diterimanya.
Kabinet Gotong Royong pimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri melantiknya sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) pada 10 Agustus 2001. Merasa tidak dipercaya lagi oleh presiden, jabatan Menko Polkam ditinggalkannya pada 11 Maret 2004. Berdirinya Partai Demokrat pada 9 September 2002 menguatkan namanya untuk mencapai karier politik puncak. Ketika Partai Demokrat dideklarasikan pada 17 Oktober 2002, namanya dicalonkan menjadi presiden dalam pemilu presiden 2004.
Setelah mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam dan sejalan dengan masa kampanye pemilu legislatif 2004, ia secara resmi berada dalam koridor Partai Demokrat. Keberadaannya dalam Partai Demokrat menuai sukses dalam pemilu legislatif dengan meraih 7,45 persen suara. Pada 10 Mei 2004, tiga partai politik yaitu Partai Demokrat, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan Bintang secara resmi mencalonkannya sebagai presiden dan berpasangan dengan kandidat wakil presiden Jusuf Kalla.

Ringkasan karier

  • Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (1974-1976)
  • Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad (1976-1977)
  • Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
  • Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978)
  • Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981)
  • Paban Muda Sops SUAD (1981-1982)
  • Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
  • Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988)
  • Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
  • Dosen Seskoad (1989-1992)
  • Korspri Pangab (1993)
  • Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994)
  • Asops Kodam Jaya (1994-1995)
  • Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
  • Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (sejak awal November 1995)
  • Kasdam Jaya (1996-hanya lima bulan)
  • Pangdam II/Sriwijaya (1996-1997) sekaligus Ketua Bakorstanasda
  • Asospol Kassospol ABRI/wakil Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Umum MPR 1998)
  • Kassospol ABRI/ Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
  • Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI (1998-1999)
  • Menteri Pertambangan dan Energi (sejak 26 Oktober 1999)
  • Menteri Koordinator Politik Sosial Keamanan(Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid)
  • Menteri Koordinator Politik Dan Keamanan(Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri) mengundurkan diri 11 Maret 2004
  • Presiden Republik Indonesia (2004-2009)
  • Presiden Republik Indonesia (2009-2014)
Penugasan
Operasi Timor Timur (1979-1980), dan 1986-1988
Jenderal TNI (Purnawirawan) Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah ditugaskan dalam sebuah operasi di Timor-Timur pada periode 1979-1980 dan 1986-1988 ini meraih gelar doktor (PhD) dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 3 Oktober 2004. Pada 15 Desember 2005, ia menerima gelar doktor kehormatan di bidang ilmu politik dari Universitas Thammasat Bangkok (Thailand)[8]. Dalam pidato pemberian gelar, ia menegaskan bahwa politik merupakan seni untuk perubahan dan transformasi dalam sebuah negara demokrasi yang damai. Ia tidak yakin sepenuhnya kalau politik itu adalah ilmu.

Penghargaan
  • Tri Sakti Wiratama (Prestasi Tertinggi Gabungan Mental Fisik, dan Intelek), 1973
  • Adhi Makayasa (lulusan terbaik Akabri 1973)
  • Satya Lencana Seroja, 1976
  • Honor Graduate IOAC, USA, 1983
  • Satya Lencana Dwija Sista, 1985
  • Lulusan terbaik Seskoad Susreg XXVI, 1989
  • Dosen Terbaik Seskoad, 1989
  • Satya Lencana Santi Dharma, 1996
  • Satya Lencana United Nations Peacekeeping Force (UNPF), 1996
  • Satya Lencana United Nations Transitional Authority in Eastern Slavonia, Baranja, and Western Sirmium (UNTAES), 1996
  • Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, 1998
  • Bintang Yudha Dharma Nararya, 1998
  • Wing Penerbang TNI-AU, 1998
  • Wing Kapal Selam TNI-AL, 1998
  • Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, 1999
  • Bintang Yudha Dharma Pratama, 1999
  • Bintang Dharma, 1999
  • Bintang Maha Putera Utama, 1999
  • Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003
  • Bintang Asia (Star of Asia), 2005, oleh BusinessWeek
  • Bintang Kehormatan Darjah Kerabat Laila Utama, 2006, oleh Sultan Brunei
  • Doktor Honoris Causa, 2006, oleh Universitas Keio
  • Darjah Utama Seri Mahkota, 2008, oleh Yang DiPertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin
  • 100 tokoh Berpengaruh Dunia 2009 kategori Pemimpin & Revolusioner Majalah TIME, 2009, oleh TIME
  • Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah dicalonkan untuk menjadi penerima penghargaan Nobel perdamaian 2006 bersama dengan Gerakan Aceh Merdeka dan Martti Ahtisaari atas inisiatif mereka untuk perdamaian di Aceh.
Masa kepresidenan
MPR pada periode 1999–2004 mengamandemen Undang-Undang Dasar 1945 UUD 1945 sehingga memungkinkan presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat. Pemilu presiden dua tahap kemudian dimenanginya dengan 60,9 persen suara pemilih dan terpilih sebagai presiden. Dia kemudian dicatat sebagai presiden terpilih pertama pilihan rakyat dan tampil sebagai presiden Indonesia keenam setelah dilantik pada 20 Oktober 2004 bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ia unggul dari pasangan Presiden Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi pada pemilu 2004.
Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) sebagai prioritas penting dalam kepemimpinannya selain kasus terorisme global. Penanggulangan bahaya narkoba, perjudian, dan perdagangan manusia juga sebagai beban berat yang membutuhkan kerja keras bersama pimpinan dan rakyat.
Di masa jabatannya, Indonesia mengalami sejumlah bencana alam seperti gelombang tsunami, gempa bumi, dll. Semua ini merupakan tantangan tambahan bagi Presiden yang masih bergelut dengan upaya memulihkan kehidupan ekonomi negara dan kesejahteraan rakyat.
Susilo Bambang Yudhoyono juga membentuk UKP4R, sebuah lembaga kepresidenan yang saat ini diketuai oleh Kuntoro Mangkusubroto (Marsilam Simandjuntak pada saat pembentukan) pada 26 Oktober 2006. Lembaga ini pada awal pembentukannya mendapat tentangan dari Partai Golkar seiring dengan isu tidak dilibatkannya Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pembentukannya serta isu dibentuknya UKP4R untuk memangkas kewenangan Wakil Presiden, tetapi akhirnya diterima setelah SBY sendiri menjelaskannya dalam sebuah keterangan pers.

Layanan SMS Presiden
Sekitar bulan Juni 2005, Presiden SBY memulai layanan pesan singkat (SMS) ke nomor telepon selulernya di 0811109949 namun esok harinya terjadi gangguan teknis karena banyaknya SMS yang masuk dan sekarang diganti cukup dengan SMS ke 9949 setelah itu SMS akan dipilih dan disampaikan ke presiden. Nomor 9949 adalah tanggal lahir beliau (9 September 1949).
Tanggal 28 Juni 2005, Presiden SBY mengirimkan SMS kepada masyarakat dengan nama pengirim Presiden RI yang berisi tentang pencegahan narkoba. Kebenaran SMS ini sudah dikonfirmasikan dan juru bicara Presiden menyatakan berbagai SMS akan menyusul.

Dahlan Iskan


Dahlan Iskan (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951; umur 59 tahun), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009.

Karier
Awal karier
Karier Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang.

Jawa Pos
Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 134 surat kabar, tabloid, dan majalah[2], serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

FIC
Sejak awal 2009, Dahlan adalah sebagai Komisaris PT. Fangbian Iskan Corporindo (FIC)yang akan memulai pembangunan Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) pertengahan tahun ini. SKKL ini akan menghubungkan Surabaya di Indonesia dan Hong Kong. Dengan panjang serat optik 4.300 kilometer

PLN
Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.

Piek Ardijanto Soeprijadi

Piek Ardijanto Soeprijadi (lahir di Magetan, Jawa Timur, 12 Agustus 1929 – meninggal di Kota Tegal, Jawa Tengah, 22 Mei 2001 pada umur 71 tahun) adalah sastrawan Indonesia angkatan 1966. Kebiasaannya menulis dimulai ketika duduk di bangku SGA. Sering mengikuti lomba-lomba mengarang, memenangi mekejuaraan, lalu mencoba mengirimkan karya-karyanya ke majalah. Tahun 1950, ketika menjadi guru SMP di Gombong, ia menghasilkan beberapa karya lagu berkat bimbingan guru musik di SGA, Pak Daldjono (pencipta lagu). Di antaranya termuat dalam buku Puspa Ragam, (Jakarta, 1950). Ada 14 penghargaan yang ia terima dari berbagai lomba/sayembara mengarang puisi, prosa, dan esei sastra sepanjang hayatnya.

Kehidupan pribadi
Karena sejak lulus SR dia masuk SGB, lalu dengan seleksi ketak memasuki SGA yang hidup dalam asrama, maka jadilah dia guru berkepribadian agak kuno, tertib, hati-hati, tegas tapi tidak galak. Perjalanan hidupnya lurus meski banyak keprihatinan. Hampir seluruh hidupnya diabdikan untuk sekolah, selebihnya menulis. Sering merasa kekurangan waktu untuk menulis. Sajak-sajaknya bayak lahir justru ketika mengikuti penataran, liburan sekolah, atau saat mengawasi ujian. Selama masa kerjanya, tak sehari pun ia pernah membolos, tapi kadang kalau sakit agak lama. Hal ini disebabkan oleh kondisi fisiknya yang lemah sejak lahir. Konon ketika dalam kandungan, ibunya hanya terbaring dan hanya dapat kemasukan tetes-tetesan air tajin selam 9 bulan. Anehnya, saat akan lahir, ibunya mendapat kekuatan, dan Piek lahir normal. Masa bocahnya di desa membuatnya dekat dengan alam dan banyak memuja kebesaran Tuhan.

Kiprah kesenian
Antara tahun 1950—1960 ia mengikuti kurus PGSLP dan B1 di Semarang. Di sela kesibukannya belajar, lahirlah karya-karya puisi, cerpen, fragmen yang dimuati di berbagai media massa antara lain: Gelora, Basis Indonesia, Sastra, Horison, dan lain-lain.
Tahun 1961, Piek pindah tugas ke SMA 1 Kota Tegal. Sejak itu ia tak pernah tinggal diam/santai. Ia makin produktif menulis puisi, esei sastra, dan mengisi rubrik kebudayaan di Harian Tempo setiap pekan untuk membicarakan/mengulas sajak-sajak penyair muda yang bermunculan di Nusantara. Tak heran jika akhirnya ia punya banyak teman-teman penyair di mana-mana yang mau menyambangi rumahnya. Puisi memang aneh, kecintaannya pada puisi dapat menjalin keakraban mendalam antarpenyair yang saling tertaut jiwanya. Sampai berpuluh tahun lamanya, hubungan batin dengan Adri Darmadji Woko, Hendrawan Nadesul, Kurniawan Gunadi, Oey Sien Tjwan tetap terjaga. Oleh Piek mereka sudah dianggap seperti anaknya, meski bukan berarti mereka berguru pada Piek.
Piek bersyukur karena pernah melawat ke Belanda selama beberapa hari atas undangan Radio Nederland Wereldomrroep di Hilversum dengan tugas sebagai Juri Sayembara Menulis Cerpen “Kincir Emas”. Di situ ia bersma Asbari Nurpatria Krisna. Oleh-olehnya adalah beberapa kumpulan puisi yang belum pernah diterbitkan. Dari kiprah dan kegiatannya, oleh HB Jassin memasukkan nama Piek Ardijanto Soeprijadi ke dalam Sastrawan Angkatan 66.

Bibliografi
  • Burung-burung di Ladang (1983)
  • Percakapan Cucu dengan Neneknya (1983)
  • Desaku Sayang (1983)
  • Lelaki di Pinggang Bukit (1984)
  • Lagu Bening dari Rawa Pening (1984)
  • Nelayan dan Laut (1995)
  • Biarkan Angin Itu (1996)
  • Kawindra-kawindra (bersama Rita Oetoro, 1984)
  • Laut Sebagai Gelanggang Hidup Manusia (bacaan anak-anak, 1984)
  • Apresiasi Sastra dalam Nilai-nilai Luhur Budaya Bangsa (sebuah wawasan, 1984)
  • Menyambut Hari Sumpah Pemuda (Langen Suara, 1984)
  • Gaya Baru, buku pelajaran untuk SMP (1984)


Antologi Bersama
  • Antologi Angkatan 66 (H.B Jassin, 1968)
  • Tanggal 2 (Linus Suryadi, 1987)
  • Senayu (bersama penyair Purwokerto, 1995)
  • Antologi Puisi Jawa Tengah (1994)


Antologi yang belum diterbitkan
  • Musim Gugur di Negeri Kincir Angin
  • Berawal Dari Hud-Hud
  • Balada Empu Sedah
  • Joglo (kumpulan puisi bahasa Jawa)


Buku yang memuat nama Piek
  • A Bibliography of Indonesian Literature in Journalist, Ernst Utrich Kratz (Gajah Mda University Press, 1988) tentang P.A.S baik prosa maupun puisi, menyita hampir dua halaman.
  • Ensiklopedia Indonesia jilid 2


Penghargaan
  • Pemenang ke-2 atas beberapa puisi yang termuat di Majalah Sastra (1962)
  • Pemenang ke-2 dalam Sayembara menulis puisi dari Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah (1964)
  • Pemenang Harapan pada Sayembara Menulis Esei Sastra, Dewan Kesenian Jakarta (1978)
  • Penghargaan dari Yayasan Buku utama atas puisinya, Lagu Bening dari Rawa Pening (1984)
  • Hadiah atas Esei Bahasa Jawa, Ninthingi Geguritan, dari Lembaga Pemeliharaan Bahasa Jawa “Javanologi”
  • Penghargaan dari Pusat Bahasa untuk bukunya, Biarkan Angin Itu
  • Penghargaan sebagai Pelopor Penyair Tegal dari Dewan Kesenian Kota Tegal. Hari meninggalnya (22 Mei) dijadikan Hari Kepenyairan Tegal (2005)
  • Penghargaan Pakarti seni dan hadiah dari Walikota Tegal sebagai penyair yang ikut mengangkat citra Kota Tegal (2008)

Ario Soerjo


Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo (biasa dikenal dengan nama Gubernur Soerjo); lahir di Magetan, Jawa Timur, 9 Juli 1895 – meninggal di Bago, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur, 10 September 1948 pada umur 53 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dan gubernur pertama Jawa Timur dari tahun 1945 hingga tahun 1948. Sebelumnya, ia menjabat Bupati di Kabupaten Magetan dari tahun 1938 hingga tahun 1943. Ia adalah menantu Raden Mas Arja Hadiwinoto. Setelah menjabat bupati Magetan, ia menjabat Su Cho Kan Bojonegoro pada tahun 1943.

RM Suryo membuat perjanjian gencatan senjata dengan komandan pasukan Inggris Brigadir Jendral Mallaby di Surabaya pada tanggal 26 Oktober 1945. Namun tetap saja meletus pertempuran tiga hari di Surabaya 28-30 Oktober yang membuat Inggris terdesak. Presiden Sukarno memutuskan datang ke Surabaya untuk mendamaikan kedua pihak.

Gencatan senjata yang disepakati tidak diketahui sepebuhnya oleh para pejuang pribumi. Tetap saja terjadi kontak senjata yang menewaskan Mallaby. Hal ini menyulut kemarahan pasukan Inggris. Komandan pasukan yang bernama Jenderal Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya supaya menyerahkan semua senjata paling tanggal 9 November 1945, atau keesokan harinya Surabaya akan dihancurkan.

Menanggapi ultimatum tersebut, Presiden Sukarno menyerahkan sepenuhnya keputusan di tangan pemerintah Jawa Timur, yaitu menolak atau menyerah. Gubernur Suryo dengan tegas berpidato di RRI bahwa Arek-Arek Suroboyo akan melawan ultimatum Inggris sampai darah penghabisan.

Maka meletuslah pertempuran besar antara rakyat Jawa Timur melawan Inggris di Surabaya yang dimulai tanggal 10 November 1945. Selama tiga minggu pertempuran terjadi di mana Surabaya akhirnya menjadi kota mati. Gubernur Suryo termasuk golongan yang terakhir meninggalkan Surabaya untuk kemudian membangun pemerintahan darurat di Mojokerto.

Tanggal 10 September 1948, mobil RM Suryo dicegat pemberontak anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di tengah hutan Peleng, Kedunggalar, Ngawi. Dua perwira polisi yang lewat dengan mobil ikut ditangkap. Ke 3 orang lalu ditelanjangi, diseret ke dalam hutan dan dibunuh. Mayat ke 3 orang ditemukan keesokan harinya oleh seorang pencari kayu bakar.

R. M. T. Soerjo dimakamkan di makam Sasono Mulyo, Sawahan, Kabupaten Magetan. Sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang jasa-jasanya terletak di Kecamatan Kedunggalar kabupaten Ngawi.

Tuesday, July 19, 2011

Ratih Sanggarwati



Ratih Sanggarwati (lahir di Ngawi, Jawa Timur, 8 Desember 1962; umur 48 tahun) adalah seorang peragawati, model, pemain sinetron, pengusaha, penulis dari Indonesia.

Karier
Kariernya bermula saat Ratih Sang masuk SMU di Madiun. Ia mengikuti Lomba Pemilihan Putri Indonesia yang diselenggarakan oleh majalah Gadis, satu-satunya majalah remaja masa itu. Ratih Sang menjadi salah seorang dari 20 finalis ajang itu, bahkan terpilih sebagai Puteri Photogenic Lux 1980. Prestasi tersebut membawanya ke Jakarta. Sayapnya semakin mengembang setelah ia berhasil terpilih sebagai None Jakarta 1983. Karier Ratih Sang mulai berkembang saat dirinya mulai menggeluti dunia model. Postur tubuhnya yang menarik dan ideal, 172 cm dan 60 kg, membantunya menjadi bintang catwalk. Hal tersebut bukan penunjang utama kesuksesannya. Kesuksesannya adalah karena ketekunannya dalam menggeluti karier. Mode merupakan art yang seakan mengalir dalam darahnya.
Tahun 1997 Ratih Sang mulai melepas kegiatannya sebagai model karena hamil. Namun bukan berarti dia lepas dari dunia modeling. Ratih Sang kemudian mendirikan model agency, sebuah sekolah model dan kursus pengembangan kepribadian yang ia beri nama, `Ekpose`. Sekolah itu ia dirikan bersama beberapa rekan seprofesi, peragawati papan atas, Kintan Umar dan Larasati.
Tahun 2000, Ratih Sang memutuskan untuk mengenakan jilbab. Hal itu tidak menghalanginya untuk melanjutkan kiprahnya di dunia hiburan Indonesia. Meski tak berlenggak-lenggok lagi di catwalk, Ratih Sang tetap berkarya. Ratih Sang menulis buku-buku tentang mode. Di antara karyanya adalah "Tampil Anggun Dengan Busana Muslim Ala Ratih Sang", "Jubah Ratih Sang: Satu Pola Beragam Gaya", "Kiat Menjadi Model Profesional", "Kata Mata dan Hati dan Kerudungmu Tak Sekedar Cantikmu". Awal Oktober 2007 (pada pertengahan bulan puasa), Ratih Sang meluncurkan buku ketiganya tentang kerudung, yaitu Kerudung Anggun.[1] Ratih Sang juga mempunyai sebuah butik busana muslim. "Sang Saqinah" merupakan nama butiknya yang telah dirintis sejak tahun 2001.
Tak hanya dunia model, Ratih Sang juga mencoba dunia teater dan seni peran. Ia memulai bermain teater sejak 1981, waktu itu ia ditawari Remy Sylado. Teater pertamanya dipentaskan di Flores Room di Hotel Borobudur dan teater kedua dipentaskan di Graha Bakti Budaya bersama Renny Djayusman. Pada pementasan kedua itulah, Ratih Sang dipercaya sebagai peran utama bersama Renny Djayusman. Ratih Sang juga bermain dalam sinetron "Salwa"(2006) yang ditayangkan oleh stasiun televisi Indosiar. Ratih Sang juga mempelopori ajang Pemilihan Model Muslimah tingkat nasional. Kontes ini diadakan tahun 2004 dan 2005.
Ratih Sang juga merambah dunia tarik suara dengan merilis album religius pada bulan September 2007. Album berjudul "Bumi Telah Renta" diambil dari bait puisi yang selama ini ia bacakan. Meski album ini berlabelkan Ratih Sanggarwati, namun Ratih Sang tidak ikut menyumbangkan suara dalam album ini. Ratih Sang hanya sebagai penulis lagu, sementara RASI Band yang mengumandangkan lagu.

Kehidupan Pribadi
Ratih Sang menikah dengan Isman Budisepta Zen. Dari pernikahan ini, mereka mempunyai 3 orang anak, Dhianya Nuasnigi Zen,Sanyadwia Ghinasni Zen dan Danyafatima Hasnuagi Zen.

Edu Snethlage

Everardus "Edu" Snethlage (lahir di Ngawi, 9 Mei 1886 – meninggal di Medan, 12 Januari 1941 pada umur 54 tahun) adalah pemain sepak bola dan dokter Belanda.
Snethlage bermain sebagai penyerang di Quick Den Haag, dan ikut dalam kejuaraan Belanda. Ia menjadi pemain profesional di Hull City FC, namun ia memilih belajar kedokteran. Antara tahun 1907-1909, ia bermain 11 kali untuk Belanda dan mencetak 10 kali gol. Ia mewakili Belanda dalam Olimpiade Musim Panas 1908 dan memenangkan medali perunggu. Anggota tim lainnya adalah Reinier Bertus Beeuwkes, Johannes Jacobus van den Berg, George Francois de Bruijn Kops, Victor Albert Gonsalves, Johannes Cornelis Heijning, Karel Heijting, Johan Adolph Frederik Kok, Johannes Marius de Korver, Lo La Chapelle, Miel Mundt, Louis Otten, Jops Reeman, Antoine Francois Mathieu van Renterghem, Johan Wilhelm Eduard Sol, Johannes Thomée, dan Caius Welcker.
Ia kembali ke Hindia-Belanda (kini Indonesia) dan berpraktek sebagai dokter.

Justur Pieter de Veer

Justus Pieter de Veer (lahir di Ngawi, Hindia-Belanda (kini Indonesia), 13 Maret 1845 – meninggal di Den Haag, Belanda, 27 Mei 1921 pada umur 76 tahun) adalah pelukis dan tokoh militer Belanda.
Justus Pieter de Veer adalah anak Johannes Cornelis Hermanus Josephus Pieter de Veer da Anna Geertruy Rappard. Sang ayah adalah letnan kolonel di KNIL dan ksatria Militaire Willems-Orde. Justus Pieter sendiri adalah mayor di KNIL.
Setelah karier militernya selesai, De Veer banting setir menjadi pelukis. Ia tinggal dan bekerja di Den Haag, yang pada abad ke-19 memiliki 3 barak besar, sehingga ia biasa melukis husar dan artileri medan yang sedang bertempur. Karena itulah, ia dikenal sebagai salah satu pelukis bertemakan militer. Pelukis terkenal lain dari genre yang sama antara lain G.H. Breitner dan Isaac Israëls.
Pada tahun 1900, terbitlah De uniformen van de Nederlandsche Zee- en Landmacht, hier te lande en in de kolonien yang terbagi atas 2 jilid. JP. de Veer adalah salah satu ilustrator buku tersebut, di samping Jan Hoynck van Papendrecht dan W.C. Staring. Teks buku tersebut ditulis oleh F.J.G ten Raa.

Sri Edi Swasono

Sri Edi Swasono (lahir di Ngawi, Jawa Timur, 16 September 1940; umur 70 tahun) adalah guru besar ekonomi di Universitas Indonesia. Ia pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari utusan golongan pada zaman orde baru. Ia juga merupakan saudara dari Sri Bintang Pamungkas.
Beliau banyak berkecimpung di dunia koperasi.Beliau adalah menantu pertama Bung Hatta. Sri Edi menghabiskan hidupnya untuk menimba ilmu serta untuk memperjuangkan pembangunan koperasi di Indonesia.

Karier dan Pendidikan
Sri Edi Swasono mengawali latar belakang pendidikan tingginya dengan menjadi mahasiswa Ekonomi FEUI dan lulus pada tahun 1963. Kemudian melanjutkan studi S2 memperoleh gelar MPIA pada University of Pittsburgh pada tahun 1966. Tidak lama setelah itu, beliau menyelesaikan studi S3 dan meraih Ph.D pada universitas yang sama(1969).
Beliau adalah orang yang produktif. Banyak karya, pengalaman, serta penghargaan yang dihasilkan dari kerja keras beliau. Karya-karyanya antara lain adalah Terobosan Kultural (1986), Demokrasi Ekonomi: Keterkaitan Usaha Partisipasi VS Konsentrasi Ekonomi (1988), Sistem Ekonomi dan Demokrasi Ekonomi (1991), dan Menuju Pembangunan Perekonomian Rakyat (1998).
Sebagian besar pengalaman beliau di bidang pendidikan yaitu sebagai Pengajar di SESKOAD (sejak 1971), Lemhanas (sejak 1973), dan Staf Pengajar Tetap FEUI. Selain itu beliau juga adalah Ketua Umum Himpunan Pengembangan Ilmu Koperasi (sejak 1987) dan Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin, sejak 1988). Atas perjuangan serta pengabdiannya, beliau telah dianugerahi berbagai penghargaan dari dalam negeri dan juga luar negeri.
Penghargaan yang dianugerahkan kepada beliau antara lain adalah Satya Lencana Dwidya Sistha SESKOAD, Satya Lencana Dwidya Sistha SESKOAL, Satya Lencana Dwidya Sistha Lemhanas, Penghargaan Dewan Hankamnas, serta Penghargaan Kolonel dari Gubernur Kentucky (USA 1986).

Guru Besar
Sri Edi giat berusaha memperjuangkan ekonomi kerakyatan dengan koperasi sebagai wujud demokrasi ekonomi. Atas kerja kerasnya tersebut, beliau dikukuhkan sebagai Guru Besar pada tanggal 13 Juli 1988 dengan membawakan pidato pengukuhan yang berjudul ”Demokrasi Ekonomi, Komitmen dan Pembangunan Indonesia”.

Pemikiran
Beliau mengajarkan bahwa konsep Koperasi adalah pilar utama untuk meraih ekonomi yang demokratis dan mandiri. Konsep koperasi beliau perbandingkan dengan neoliberalisme. Baginya, neoliberalisme justru menjadi penyebab menurunnya kesejahteraan Indonesia. Neoliberalisme ekonomi menciptakan daulat pasar, bukan daulat rakyat. Pembangunan negara atas dasar neoliberalisme hanya menggusur orang miskin, bukan menggusur kemiskinan.
Bagi beliau, koperasi merupakan manifestasi dari sistem ekonomi kerakyatan. Maka dari itu, penerapan ekonomi koperasi di Indonesia menjadi penting. Kritik terhadap ekonomi neoliberalisme itulah yang melatarbelakangi beliau menulis buku berjudul Indonesia dan Doktrin Kesejahteraan Sosial.
Dalam buku ini, Sri Edi menuliskan pemikirannya mengenai kesejahteraan sosial yang seharusnya bisa diwujudkan di Indonesia. Menurutnya, kesejahteraan sosial adalah idealisme yang diakui oleh Indonesia sebagai kewajiban “melindungi segenap bangsa Indonesia” dan untuk memenuhi hak warga negaranya. Buku tersebut menekankan pentingnya penegakan sistem ekonomi Indonesia yang berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 yakni Pasal 33.

Monday, July 18, 2011

Hatna Danarda



Hatna Danarda atau lebih dikenal dengan nama Arda (lahir di Madiun, Jawa Timur, Indonesia, 17 Juni 1988; umur 23 tahun) adalah penyanyi dan vokalis grup band Naff.

Masuk ke Naff
Pada tahun 2010, Arda resmi bergabung dengan Naff sebagai vokalis yang menggantikan posisi sebelumnya, Ady. Naff pun merilis album pertama dengan formasi barunya yaitu Chapter 07 (New Beginning) pada tahun 2011.

Kehidupan pribadi
Arda lahir di Madiun pada 17 Juni 1988. Ia pernah mengikuti kontes Indonesian Idol Musim Kelima pada tahun 2008. Namun, ia tereleminasi dari kontes tersebut pada 26 April 2008. Pada tahun 2010, ia resmi bergabung dengan Naff yang menggantikan posisi Ady. Arda juga merupakan kekasih dari vokalis Kotak, Tantri.

Diskografi
Bersama Naff
Chapter 07 (New Beginning) (2011)

Ari Lasso



Ari Bernardus Lasso, atau lebih dikenal dengan nama Ari Lasso (lahir di Madiun, Jawa Timur, 17 Januari 1973; umur 38 tahun) adalah penyanyi pop Indonesia. Ia pernah tercatat sebagai vokalis grup band Dewa 19 (1991-1998) yang akhirnya ia keluar dan menjalani karier sebagai penyanyi solo.

Profil
Awal Karier
Ari pertama kali membentuk Outsider Band sewaktu sekolah di SMA Negeri 2 Surabaya bersama Wawan Juniarso (drummer Dewa) Piyu (gitaris Padi). Kemudian ia bergabung dengan Lost Angels Band, yang kelak menjadi Boomerang.
Ia kemudian bergabung dengan Down Beat, yang kemudian berganti nama menjadi Dewa, dan berubah lagi menjadi Dewa 19. Band ini menjadi besar, dan hampir setiap album yang dikeluarkan terjual ratusan ribu kopi. Di tengah kesibukannya menjadi personel Dewa, Ari berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Pasca Dewa 19
Sejak dirilisnya album Pandawa Lima tahun 1997, hubungan Ari dengan Dewa 19 mulai memburuk, terlebih ketika Ari mulai mengonsumsi narkoba dan akhirnya ia dikeluarkan oleh Ahmad Dhani sebagai anggota Dewa, dan posisinya sebagai vokalis digantikan oleh Once. Meski demikian, Ari sempat menjadi backing vocal lagu Roman Picisan dalam album Dewa Bintang Lima.
Setelah resmi keluar dari Dewa, Ari mulai menggarap album solonya. Ari muncul kembali ke dunia hiburan, tampil duet bersama Melly Goeslaw, yang kemudian sukses besar di pasaran. Tahun 2001 Ari mengeluarkan album solo pertamanya Sendiri Dulu, yang juga sukses besar dengan tembang andalannya Misteri Ilahi. Di album ini ia dibantu oleh Bebi Romeo, Erwin Prasetya, Andra, Bimo, Bongky, Anto Hoed, Denny Chasmala, dan Andi Rianto. Tahun 2003 ia kembali merilis album keduanya Keseimbangan. Pada album ini ia menggandeng musisi-musisi hebat seperti Ahmad Dhani, Piyu (Padi), Andra (Dewa), Bebi Romeo, Ricky FM, Marshal (Dr. PM). Tahun 2004 ia merilis album ketiganya Kulihat, Kudengar, Kurasa, dimana salah satu lagunya menjadi sound track film layar lebar dengan judul sama, Mengejar Matahari.
Ari mengeluarkan album keempatnya dengan tajuk "Selalu Ada" pada tahun 2006. Di album ini, lagu Cinta Terakhir menjadi andalannya.
Di tahun 2007, Ari merilis album "The Best of" dengan salah satu lagunya, Aku dan Dirimu, di mana Ari duet bersama Bunga Citra Lestari.

Discografi
Bersama Dewa
  • Dewa 19 (1992)
  • Format Masa Depan (1994)
  • Terbaik Terbaik (1995)
  • Pandawa Lima (1997)
  • The Best Of Dewa 19 (1999)


Album Solo
  • Sendiri Dulu (2001)
  • Keseimbangan (2003)
  • Kulihat, Kudengar, Kurasa (2004)
  • Selalu Ada (2006)
  • The Best of (2007)
  • Pengasihmu (2009)
  • I Have A Dream (2010)

Hans Maier

Hans Maier (lahir di Madioen, Hindia-Belanda (kini Indonesia), 11 Juli 1916; umur 95 tahun) adalah seorang pemain polo air Belanda.
Hans Maier ikut serta dalam Olimpiade Musim Panas 1936. Selama pertandingan, Maier bermain dalam 7 kali pertandingan. Dari tim Belanda, Maier disertai 8 orang lain, seperti Cornelis Gijsbertus van Aelst, Alexander Franken, Ru den Hamer, Jan van Heteren, Soesoe van Oostrom Soede, Ge Regter, Herman Veenstra, dan Joop van Woerkom.
Dalam kompetisi, Maier bergabung dengan klub Het Y.

Rasiyo

Dr. H. Rasiyo, M.Si lahir di Madiun, 17 Desember 1952; umur 59 tahun) adalah Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur sejak 2009. Dia menggantikan posisi Soekarwo yang menjadi Gubernur Jawa Timur.

Renia



Renia yang memiliki nama panjang Elmayana Sabrenia (lahir di Madiun, Jawa Timur, 22 Januari 1980; umur 31 tahun) adalah pemain film dan sinetron Indonesia. Putri pasangan Marsma Pnb Surya Dharma dan Cut Nurleily ini mulai dikenal sejak membintangi film Brownies (2004) sebagai Didi. Film ini juga merupakan debut Renia di dunia seni peran. Bahkan sebelum main di film ini, sulung tiga bersaudara ini belum pernah bermain di film maupun sinetron, juga belum pernah menjadi bintang iklan. Saat ditawari main di Brownies, Renia adalah seorang mahasiswi yang kuliah di Jurusan Public Relations (PR) FISIP Universitas Pelita Harapan.
Setelah bermain sebagai Didi yang ceriwis, yang juga menjadi trademark Renia, seperti dalam sinetron 1001 Cara Menggaet Cowok, Renia menjadi pengarang bernama Serena yang bawel. Di sinetron Bunda yang disiarkan RCTI, Renia juga menjadi tokoh antagonis bernama Lia.

Filmografi
  • Brownies (2004)
  • Vina Bilang Cinta (2005)
  • Mengejar Mas Mas (2007)
  • Pocong 3 (2007)
  • XL, Antara Aku, Kau dan Mak Erot (2008)


Sinetron
  • 1001 Cara Menggaet Cowok
  • Bunda

Lukman Santoso

Lukman Santoso (lahir di Madiun, 8 Juni 1945; umur 66 tahun) adalah salah satu pemain sepak bola Indonesia pada tahun 1970-an. Berposisi sebagai pemain belakang, pemilik nama asli Loa Kwee San ini pernah memperkuat PSIM Mataram dan tim nasional sepak bola Indonesia pra-Olimpiade.

Tien Santoso



Tien Santoso (lahir di Madiun, 11 November 1950 – meninggal di Jakarta, 7 Desember 2009 pada umur 59 tahun) adalah seorang penghias pengantin terkenal dari Indonesia.

Masa Kecil
Tien mengaku mengenal tata rias dari ibunya yang senang merias. Ayahnya seorang tentara, maka waktu SD dia belajar tari bersama Kristiani (Ani Yudhoyono) di Bandung yang juga anak tentara. Jadi, Tien dididik dalam lingkungan yang kental dengan budaya dan disiplin.

Karier
Menghias Pengantin
Tien dipercaya untuk menangani di antaranya pernikahan putra presiden pertama RI, Bayu Soekarnoputra, putri proklamator, Halida Hatta, hingga Alissa Abdurrahman Wahid, juga putra mantan Wapres Try Sutrisno, putri mantan Menlu Ali Alatas hingga keluarga orang kenamaan Sudwikatmono. Begitu juga puluhan pasangan artis dari Vina Panduwinata, Onky-Paula, Maudy Koesnaedi, Memes, hingga Kristina.

Dosen
Dalam profesi sebagai dosen, pada mulanya dia mengajar di Lembaga Pendidikan Wanita Indonesia di bawah Ikatan Sarjana Wanita Indonesia pada 1976. Tahun 1984 lembaga itu menjadi Akademi Seni Rupa dan Desain Indonesia. Selain itu, dia juga mengajar di IKIP Rawamangun yang pada 1990 berubah namanya menjadi Universitas Negeri Jakarta.
Tien mengajar program studi tata rias, jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik di UNJ. Dia menjelaskan, Program tata rias masuk Fakultas Teknik, karena semua yang dipelajari harus bisa diukur. Di sana juga ada fisika dan kimia. Ada pengetahuan anatomi, bedah plastik, dan matematika serta statistik.

Keluarga
Pada 7 Januari 1974, Tien menikah dengan Imam Santoso yang berprofesi sebagai wartawan. Mereka dikaruniai dua putra, Levi Pahlevi Santoso (salah satu personel The Fly) dan Kiky Santoso

Penghargaan
Penghargaan yang pernah didapat Tien antara lain Anugrah Piagam Bhakti Budaya, Dharma Budaya, Kridha Budaya, Pakarti Budaya, dan Bintang Mas ke-3 dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi Surakarta, Kartini Award 2004 dari Iwapi, dan Satya Lencana dari Presiden RI pada 2004.

Subagio Sastrowardoyo



Subagio Sastrowardoyo (lahir di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924 – meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995 pada umur 71 tahun) adalah seorang dosen, penyair, penulis cerita pendek dan esei, serta kritikus sastra asal Indonesia. Selama bertahun-tahun, ia adalah direktur perusahaan penerbitan Balai Pustaka.

Pendidikan Dan Karier
Subagio berpendidikan HIS di Bandung dan Jakarta, HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM selesai tahun 1958, Universitas Yale tahun 1961-1966. Pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia Kursus B-I di Yogyakarta (1954-1958), dosen Kesustraan Indonesia di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1658-1961), dosen UNPAD, dosen SESKOAD keduanya di Bandung, dosen bahasa dan Kesusastraan Indonesia di Universitas Flinders, Adelaide, dan terakhir bekerja di Penerbit Balai Pustaka. Pada musim panas 1984, ia juga pernah menjadi seorang instruktur tamu di Universitas Ohio, dan mengajarkan bahasa Indonesia.

Karya
Sekitar tahun 1950-an, Subagio lebih menonjol sebagai pengarang cerpen daripada seorang penyair. Cerpennya yang berjudul Kejantanan di Sumbing pernah mendapatkan hadiah sebagai cerpen terbaik. Dalam cerpen dan sajak-sajaknya, banyak dilukiskan manusia yang gampang dirangsang oleh nafsunya. Manusia-manusia Subagio adalah manusia-manusia yang dalam mencoba mempertahankan kewajiban tergoda oleh sifat-sifat kedagingannya.
Puisi-puisi Subagio umumnya dipandang mempunyai bobot filosofis yang tinggi dan mendalam, dan tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Perumpamaan dan lambang digunakannya secara dewasa dan matang. Sajaknya yang berjudul Dan Kematian Makin Akrab memenangkan Hadiah Horison untuk sajak-sajak yang dimuat tahun 1966-1967, dan tahun 1970 mendapatkan Anugerah Seni dari Pemerintah RI untuk kumpulan sajaknya Daerah Perbatasan (1970).
Subagio juga terjun dalam dunia kritik dan telaah sastra. Esei-eseinya banyak yang mencoba menyelami latar persoalan manusia Indonesia sekarang secara jujur dan tajam.

Soekarwo



DR. H. Soekarwo, SH, M.Hum (lahir di Madiun, Jawa Timur, Indonesia, 16 Juni 1950; umur 61 tahun) adalah Gubernur KDH Tk.I Provinsi Jawa Timur periode 2009—2014. Ia sering dipanggil Pakde Karwo.

Biografi
Soekarwo menamatkan pendidikannya di SR Negeri Palur Madiun (1962), SMP Negeri 2 Ponorogo (1965), serta SMAK Sosial Madiun (1969). Gelar sarjana hukum diperolehnya di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya (1979), sementara gelar pascasarjana hukum di Universitas Surabaya (1996), dan gelar doktornya di Universitas Diponegoro Semarang (2004).

Soekarwo mengawali kariernya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur, dan terakhir sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur (2003-2008). Ia juga dipercaya sebagai Komisaris Utama Bank Jatim sejak tahun 2005.

Gubernur Jawa Timur
Soekarwo terpilih sebagai gubernur dalam Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur yang diselenggarakan selama dua putaran (putaran pertama tanggal 23 Juli 2008 dan putaran kedua tanggal 4 November 2008) serta pemilihan ulang putaran kedua di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang tanggal 21 Januari 2009. Pelantikan Soekarwo sebagai gubernur dan Saifullah Yusuf sebagai wakil gubernur Jawa Timur dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2009 oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto.

Sumber

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes