Tempat Berbelanja Oleh-oleh Khas Karesidenan Madiun ( Ngawi - Ponorogo - Pacitan - Madiun - Magetan)
Showing posts with label tokoh kelahiran madiun. Show all posts
Showing posts with label tokoh kelahiran madiun. Show all posts

Monday, July 18, 2011

Hatna Danarda



Hatna Danarda atau lebih dikenal dengan nama Arda (lahir di Madiun, Jawa Timur, Indonesia, 17 Juni 1988; umur 23 tahun) adalah penyanyi dan vokalis grup band Naff.

Masuk ke Naff
Pada tahun 2010, Arda resmi bergabung dengan Naff sebagai vokalis yang menggantikan posisi sebelumnya, Ady. Naff pun merilis album pertama dengan formasi barunya yaitu Chapter 07 (New Beginning) pada tahun 2011.

Kehidupan pribadi
Arda lahir di Madiun pada 17 Juni 1988. Ia pernah mengikuti kontes Indonesian Idol Musim Kelima pada tahun 2008. Namun, ia tereleminasi dari kontes tersebut pada 26 April 2008. Pada tahun 2010, ia resmi bergabung dengan Naff yang menggantikan posisi Ady. Arda juga merupakan kekasih dari vokalis Kotak, Tantri.

Diskografi
Bersama Naff
Chapter 07 (New Beginning) (2011)

Ari Lasso



Ari Bernardus Lasso, atau lebih dikenal dengan nama Ari Lasso (lahir di Madiun, Jawa Timur, 17 Januari 1973; umur 38 tahun) adalah penyanyi pop Indonesia. Ia pernah tercatat sebagai vokalis grup band Dewa 19 (1991-1998) yang akhirnya ia keluar dan menjalani karier sebagai penyanyi solo.

Profil
Awal Karier
Ari pertama kali membentuk Outsider Band sewaktu sekolah di SMA Negeri 2 Surabaya bersama Wawan Juniarso (drummer Dewa) Piyu (gitaris Padi). Kemudian ia bergabung dengan Lost Angels Band, yang kelak menjadi Boomerang.
Ia kemudian bergabung dengan Down Beat, yang kemudian berganti nama menjadi Dewa, dan berubah lagi menjadi Dewa 19. Band ini menjadi besar, dan hampir setiap album yang dikeluarkan terjual ratusan ribu kopi. Di tengah kesibukannya menjadi personel Dewa, Ari berhasil menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Pasca Dewa 19
Sejak dirilisnya album Pandawa Lima tahun 1997, hubungan Ari dengan Dewa 19 mulai memburuk, terlebih ketika Ari mulai mengonsumsi narkoba dan akhirnya ia dikeluarkan oleh Ahmad Dhani sebagai anggota Dewa, dan posisinya sebagai vokalis digantikan oleh Once. Meski demikian, Ari sempat menjadi backing vocal lagu Roman Picisan dalam album Dewa Bintang Lima.
Setelah resmi keluar dari Dewa, Ari mulai menggarap album solonya. Ari muncul kembali ke dunia hiburan, tampil duet bersama Melly Goeslaw, yang kemudian sukses besar di pasaran. Tahun 2001 Ari mengeluarkan album solo pertamanya Sendiri Dulu, yang juga sukses besar dengan tembang andalannya Misteri Ilahi. Di album ini ia dibantu oleh Bebi Romeo, Erwin Prasetya, Andra, Bimo, Bongky, Anto Hoed, Denny Chasmala, dan Andi Rianto. Tahun 2003 ia kembali merilis album keduanya Keseimbangan. Pada album ini ia menggandeng musisi-musisi hebat seperti Ahmad Dhani, Piyu (Padi), Andra (Dewa), Bebi Romeo, Ricky FM, Marshal (Dr. PM). Tahun 2004 ia merilis album ketiganya Kulihat, Kudengar, Kurasa, dimana salah satu lagunya menjadi sound track film layar lebar dengan judul sama, Mengejar Matahari.
Ari mengeluarkan album keempatnya dengan tajuk "Selalu Ada" pada tahun 2006. Di album ini, lagu Cinta Terakhir menjadi andalannya.
Di tahun 2007, Ari merilis album "The Best of" dengan salah satu lagunya, Aku dan Dirimu, di mana Ari duet bersama Bunga Citra Lestari.

Discografi
Bersama Dewa
  • Dewa 19 (1992)
  • Format Masa Depan (1994)
  • Terbaik Terbaik (1995)
  • Pandawa Lima (1997)
  • The Best Of Dewa 19 (1999)


Album Solo
  • Sendiri Dulu (2001)
  • Keseimbangan (2003)
  • Kulihat, Kudengar, Kurasa (2004)
  • Selalu Ada (2006)
  • The Best of (2007)
  • Pengasihmu (2009)
  • I Have A Dream (2010)

Hans Maier

Hans Maier (lahir di Madioen, Hindia-Belanda (kini Indonesia), 11 Juli 1916; umur 95 tahun) adalah seorang pemain polo air Belanda.
Hans Maier ikut serta dalam Olimpiade Musim Panas 1936. Selama pertandingan, Maier bermain dalam 7 kali pertandingan. Dari tim Belanda, Maier disertai 8 orang lain, seperti Cornelis Gijsbertus van Aelst, Alexander Franken, Ru den Hamer, Jan van Heteren, Soesoe van Oostrom Soede, Ge Regter, Herman Veenstra, dan Joop van Woerkom.
Dalam kompetisi, Maier bergabung dengan klub Het Y.

Rasiyo

Dr. H. Rasiyo, M.Si lahir di Madiun, 17 Desember 1952; umur 59 tahun) adalah Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur sejak 2009. Dia menggantikan posisi Soekarwo yang menjadi Gubernur Jawa Timur.

Renia



Renia yang memiliki nama panjang Elmayana Sabrenia (lahir di Madiun, Jawa Timur, 22 Januari 1980; umur 31 tahun) adalah pemain film dan sinetron Indonesia. Putri pasangan Marsma Pnb Surya Dharma dan Cut Nurleily ini mulai dikenal sejak membintangi film Brownies (2004) sebagai Didi. Film ini juga merupakan debut Renia di dunia seni peran. Bahkan sebelum main di film ini, sulung tiga bersaudara ini belum pernah bermain di film maupun sinetron, juga belum pernah menjadi bintang iklan. Saat ditawari main di Brownies, Renia adalah seorang mahasiswi yang kuliah di Jurusan Public Relations (PR) FISIP Universitas Pelita Harapan.
Setelah bermain sebagai Didi yang ceriwis, yang juga menjadi trademark Renia, seperti dalam sinetron 1001 Cara Menggaet Cowok, Renia menjadi pengarang bernama Serena yang bawel. Di sinetron Bunda yang disiarkan RCTI, Renia juga menjadi tokoh antagonis bernama Lia.

Filmografi
  • Brownies (2004)
  • Vina Bilang Cinta (2005)
  • Mengejar Mas Mas (2007)
  • Pocong 3 (2007)
  • XL, Antara Aku, Kau dan Mak Erot (2008)


Sinetron
  • 1001 Cara Menggaet Cowok
  • Bunda

Lukman Santoso

Lukman Santoso (lahir di Madiun, 8 Juni 1945; umur 66 tahun) adalah salah satu pemain sepak bola Indonesia pada tahun 1970-an. Berposisi sebagai pemain belakang, pemilik nama asli Loa Kwee San ini pernah memperkuat PSIM Mataram dan tim nasional sepak bola Indonesia pra-Olimpiade.

Tien Santoso



Tien Santoso (lahir di Madiun, 11 November 1950 – meninggal di Jakarta, 7 Desember 2009 pada umur 59 tahun) adalah seorang penghias pengantin terkenal dari Indonesia.

Masa Kecil
Tien mengaku mengenal tata rias dari ibunya yang senang merias. Ayahnya seorang tentara, maka waktu SD dia belajar tari bersama Kristiani (Ani Yudhoyono) di Bandung yang juga anak tentara. Jadi, Tien dididik dalam lingkungan yang kental dengan budaya dan disiplin.

Karier
Menghias Pengantin
Tien dipercaya untuk menangani di antaranya pernikahan putra presiden pertama RI, Bayu Soekarnoputra, putri proklamator, Halida Hatta, hingga Alissa Abdurrahman Wahid, juga putra mantan Wapres Try Sutrisno, putri mantan Menlu Ali Alatas hingga keluarga orang kenamaan Sudwikatmono. Begitu juga puluhan pasangan artis dari Vina Panduwinata, Onky-Paula, Maudy Koesnaedi, Memes, hingga Kristina.

Dosen
Dalam profesi sebagai dosen, pada mulanya dia mengajar di Lembaga Pendidikan Wanita Indonesia di bawah Ikatan Sarjana Wanita Indonesia pada 1976. Tahun 1984 lembaga itu menjadi Akademi Seni Rupa dan Desain Indonesia. Selain itu, dia juga mengajar di IKIP Rawamangun yang pada 1990 berubah namanya menjadi Universitas Negeri Jakarta.
Tien mengajar program studi tata rias, jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik di UNJ. Dia menjelaskan, Program tata rias masuk Fakultas Teknik, karena semua yang dipelajari harus bisa diukur. Di sana juga ada fisika dan kimia. Ada pengetahuan anatomi, bedah plastik, dan matematika serta statistik.

Keluarga
Pada 7 Januari 1974, Tien menikah dengan Imam Santoso yang berprofesi sebagai wartawan. Mereka dikaruniai dua putra, Levi Pahlevi Santoso (salah satu personel The Fly) dan Kiky Santoso

Penghargaan
Penghargaan yang pernah didapat Tien antara lain Anugrah Piagam Bhakti Budaya, Dharma Budaya, Kridha Budaya, Pakarti Budaya, dan Bintang Mas ke-3 dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi Surakarta, Kartini Award 2004 dari Iwapi, dan Satya Lencana dari Presiden RI pada 2004.

Subagio Sastrowardoyo



Subagio Sastrowardoyo (lahir di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924 – meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995 pada umur 71 tahun) adalah seorang dosen, penyair, penulis cerita pendek dan esei, serta kritikus sastra asal Indonesia. Selama bertahun-tahun, ia adalah direktur perusahaan penerbitan Balai Pustaka.

Pendidikan Dan Karier
Subagio berpendidikan HIS di Bandung dan Jakarta, HBS, SMP, dan SMA di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM selesai tahun 1958, Universitas Yale tahun 1961-1966. Pernah menjabat Ketua Jurusan Bahasa Indonesia Kursus B-I di Yogyakarta (1954-1958), dosen Kesustraan Indonesia di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1658-1961), dosen UNPAD, dosen SESKOAD keduanya di Bandung, dosen bahasa dan Kesusastraan Indonesia di Universitas Flinders, Adelaide, dan terakhir bekerja di Penerbit Balai Pustaka. Pada musim panas 1984, ia juga pernah menjadi seorang instruktur tamu di Universitas Ohio, dan mengajarkan bahasa Indonesia.

Karya
Sekitar tahun 1950-an, Subagio lebih menonjol sebagai pengarang cerpen daripada seorang penyair. Cerpennya yang berjudul Kejantanan di Sumbing pernah mendapatkan hadiah sebagai cerpen terbaik. Dalam cerpen dan sajak-sajaknya, banyak dilukiskan manusia yang gampang dirangsang oleh nafsunya. Manusia-manusia Subagio adalah manusia-manusia yang dalam mencoba mempertahankan kewajiban tergoda oleh sifat-sifat kedagingannya.
Puisi-puisi Subagio umumnya dipandang mempunyai bobot filosofis yang tinggi dan mendalam, dan tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Perumpamaan dan lambang digunakannya secara dewasa dan matang. Sajaknya yang berjudul Dan Kematian Makin Akrab memenangkan Hadiah Horison untuk sajak-sajak yang dimuat tahun 1966-1967, dan tahun 1970 mendapatkan Anugerah Seni dari Pemerintah RI untuk kumpulan sajaknya Daerah Perbatasan (1970).
Subagio juga terjun dalam dunia kritik dan telaah sastra. Esei-eseinya banyak yang mencoba menyelami latar persoalan manusia Indonesia sekarang secara jujur dan tajam.

Soekarwo



DR. H. Soekarwo, SH, M.Hum (lahir di Madiun, Jawa Timur, Indonesia, 16 Juni 1950; umur 61 tahun) adalah Gubernur KDH Tk.I Provinsi Jawa Timur periode 2009—2014. Ia sering dipanggil Pakde Karwo.

Biografi
Soekarwo menamatkan pendidikannya di SR Negeri Palur Madiun (1962), SMP Negeri 2 Ponorogo (1965), serta SMAK Sosial Madiun (1969). Gelar sarjana hukum diperolehnya di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya (1979), sementara gelar pascasarjana hukum di Universitas Surabaya (1996), dan gelar doktornya di Universitas Diponegoro Semarang (2004).

Soekarwo mengawali kariernya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur, dan terakhir sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur (2003-2008). Ia juga dipercaya sebagai Komisaris Utama Bank Jatim sejak tahun 2005.

Gubernur Jawa Timur
Soekarwo terpilih sebagai gubernur dalam Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur yang diselenggarakan selama dua putaran (putaran pertama tanggal 23 Juli 2008 dan putaran kedua tanggal 4 November 2008) serta pemilihan ulang putaran kedua di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang tanggal 21 Januari 2009. Pelantikan Soekarwo sebagai gubernur dan Saifullah Yusuf sebagai wakil gubernur Jawa Timur dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2009 oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto.

Sumber

Sunario Sastrowardoyo



Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo (lahir di Madiun, Jawa Timur, 28 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 18 Mei 1997 pada umur 94 tahun) adalah salah satu tokoh Indonesia pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pernah menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Sunario adalah satu-satunya tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional Manifesto 1925 dan Konggres Pemuda II. Ketika Manifesto Politik itu dicetuskan ia menjadi Pengurus Perhimpunan Indonesia bersama Hatta. Sunario menjadi Sekretaris II, Hatta bendahara I. Akhir Desember 1925, ia meraih gelar Meester in de rechten, lalu pulang ke Indonesia. Aktif sebagai pengacara, ia membela para aktivis pergerakan yang berurusan dengan polisi Hindia Belanda. Ia menjadi penasihat panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Dalam kongres itu Sunario menjadi pembicara dengan makalah "Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia."

Karier
Setelah Indonesia merdeka, Sunario menjadi anggota dan kemudian Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat).

Ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada periode 1953-1955. Di masa jabatannya sebagai Menteri Luar Negeri Mr. Soenario menjabat sebagai Ketua Delegasi RI dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Ketika menjadi Menlu, Sunario juga menandatangani Perjanjian tentang Dwi kewarganegaraan etnis Cina dengan Chou En Lai.

Ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Inggris periode 1956 - 1961. Setelah itu Sunario diangkat sebagai guru besar politik dan hukum internasional, lalu menjadi Rektor Universitas Diponegoro, Semarang (1963-1966).

Pada 1968, Sunario berprakarsa mengumpulkan pelaku sejarah Sumpah Pemuda, dan meminta kepada Gubernur DKI mengelola dan mengembalikan gedung di Kramat Raya 106 milik Sie Kong Liang yang telah berganti-ganti penyewa dan pemilik kepada bentuknya semula. Tempat ini disepakati menjadi Gedung Sumpah Pemuda, tetapi usulan mengganti nama jalan Kramat Raya menjadi jalan Sumpah Pemuda belum tercapai.[2]

Setelah pensiun, diangkat sebagai Panitia Lima tahun 1974. Panitia itu dibentuk pemerintah karena muncul kehebohan di kalangan masyarakat tentang siapa sebetulnya penggali Pancasila. Panitia ini diketuai Bung Hatta. Anggota lainnya adalah Ahmad Subardjo, A. A. Maramis, dan A. G. Pringgodigdo, tokoh yang ikut merumuskan Piagam Jakarta tahun 1945.

Riwayat
Soenario lahir di Madiun, Jawa Timur pada tanggal 28 Agustus 1902. Ia adalah anak dari pasangan Sutejo Sastrowardoyo yang merupakan mantan wedana di Uteran dan Suyati Kartokusumo. Sutejo Sastrowardoyo dan Suyati Kartokusumo memiliki 14 anak, dimana Sunario sendiri merupakan anak pertama dan memiliki 13 adik.

Sunario yang beragama Islam dan berasal dari Jawa Timur ini menikah dengan gadis Minahasa beragama Protestan yang ditemuinya saat berlangsung Kongres Pemuda 1928. Sunario wafat pada tahun 1997 dan istrinya tiga tahun lebih awal, 1994. Sunario wafat di RS Medistra, Jakarta.

Pendidikan
Pada tahun 1908, Soenario masuk ke Frobelschool (sekolah taman kanak-kanak) di Madiun. Di sekolah tersebut, ia diajar oleh guru-guru wanita yang bernama Mejuffrouw Acherbeek dan Mejuffrouw Tien.

Setelah ia lulus dari Frobelschool, ia masuk ke Europeesche Lagere School (ELS), yang merupakan Sekolah Dasar di Madiun tahun 1909 - 1916, Sunario tinggal di rumah kakeknya yang merupakan pensiunan Mantri Kadaster yang bernama Sastrosentono. Sunario termasuk murid yang cerdas dan tidak pernah tinggal kelas yang membuat orang tuanya bangga.

Setelah menyelesaikan pendidikan di ELS, Sunario melanjutkan sekolahnya ke MULO, yang merupakan singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (sejenis dengan Sekolah Menengah Pertama) di Madiun. Ia bersekolah disini hanya 1 tahun, dan pada tahun 1917 ia pindah ke Rechtschool (setingkat dengan SMK/Sekolah Menengah Kejuruan Hukum) di Batavia. Di Batavia, ia tinggal di rumah pamannya, yang bernama Kusman dan Kunto. Di Rechschool, ia belajar hukum dan belajar bahasa Perancis. Sewaktu ia bersekolah disitu, ia menjadi anggota Jong Java.[3]

Setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Rechtschool, ia melanjutkan pelajarannya ke Belanda. Ia berangkat ke Belanda dengan biaya sendiri dengan menaiki kapal sampai ke Genoa, lalu meneruskan perjalanan dengan kereta api ke Brussel, Belgia dan menginap disana semalam. Setelah itu, ia pergi ke Den Haag dan mengganti kereta api menuju Leiden. Di Leiden, ia diterima di Universitas Leiden dan mengikuti kuliah doktoral, sehingga pada tahun 1925 ia meraih gelar Mr. atau Meester in de Rechten yang artinya ahli dalam ilmu hukum. Ia menerima ijazah pada tanggal 15 Desember dan ditandatangani oleh Prof. C. van Vollenhoven dan Prof. N.Y. Krom. Selama di Belanda, ia menjadi anggota Perhimpunan Indonesia.

Sumber

Soeripto

Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Soeripto (lahir di Madiun, Jawa Timur, 18 November 1934; umur 76 tahun) adalah gubernur Riau selama dua periode. Soeripto merupakan alumnus AMN Magelang 1960. Jabatannya di kemiliteran yang cukup menonjol antara lain dengan pangkat kolonel menjadi Asintel Kowilhan I, lalu dengan pangkat brigadir jenderal TNI menjabat Kas Kostrad kemudian dengan pangkat yang sama menjabat Pangdam I Bukit Barisan. Puncak kariernya di kemiliteran adalah ketika berpangkat Mayor Jenderal TNI menjabat Pangkostrad.

Sumber

Sarbini Sumawinata



Prof. Dr. Sarbini Sumawinata (lahir di Madiun, Jawa Timur, 20 Agustus 1918 – meninggal di Jakarta, 13 Maret 2007 pada umur 88 tahun) adalah seorang ekonom dan guru besar Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia yang berjasa bagi negara karena pada 1965 ia merupakan salah seorang pertama yang memperkenalkan konsep pembangunan ekonomi kepada Jenderal Soeharto yang saat itu masih menjabat sebagai Panglima Komando Strategi dan Cadangan Angkatan Darat (Kostrad). Konsep ini kelak menghasilkan perbaikan ekonomi negara pada awal pemerintahan Orde Baru.

Menjadi penasihat Soeharto
Pada tahun 1966, Jenderal Soeharto yang menjabat sebagai Ketua Presidium Kabinet Ampera yang resminya masih berada dibawah pimpinan Presiden Soekarno membentuk Tim Ahli Ekonomi yang dipimpin oleh Prof. Widjojo Nitisastro dan Tim Ahli Politik yang dipimpin oleh Prof. Sarbini, dengan Ali Moertopo sebagai Asisten Pribadi Ketua Presidium Bidang Politik.

Meskipun berlatar belakang sebagai seorang ekonom, Sarbini ternyata sangat paham soal politik. Ia ternyata sangat kritis dalam masalah politik, sehingga tidak jarang ia berseberangan jalan dengan Jend. Soeharto.

Menjadi orang sipil kembali
Pada tahun 1968, Soeharto selaku Presiden membentuk kabinet dan membuarkan kedua Tim Ahlinya. Karena itu Sarbini kembali menjadi orang sipil dan menjadi pemimpin buletin ekonomi Business News

Meskipun demikian, Sarbini tetap menyumbangkan pemikiran kritisnya terhadap sistem politik negara. Misalnya, ia pernah mengajukan pemikirannya tentang bahaya militerisme dan pentingnya kesetaraan dalam hubungan kerja sama sipil-militer dan kebebasan pers. Sarbini juga tidak segan-segan mengkritik pemerintahan Orde Baru yang dinilainya membawa Indonesia ke dalam jurang kehancuran.

Sekitar Malari 1974
Pada awal Orde Baru, pemerintah Indonesia meninggalkan kebijakan pemerintahan Soekarno yang menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing dan menolak modal asing. Sebaliknya, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (1968) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (1969) yang dimaksudkan untuk mendatangkan sebanyak-banyaknya investor asing. Akibatnya modal asing, terutama dari Jepang membanjiri Indonesia dan menghimpit banyak pengusaha kecil nasional.

Pada awal 1974 Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka berkunjung ke Indonesia, dan meletuslah huru-hara yang disebut sebagai peristiwa Malari. Dalam kaitan itu Prof. Sarbini sempat ditahan selama 808 hari dengan tuduhan terlibat dalam huru-hara itu, meskipun ia tak pernah diajukan ke pengadilan.

Pemikiran Sarbini
Banyak orang kurang mengenal Prof. Sarbini Sumawinata sebagai tokoh sosialis Indonesia. Ia giat mengembangkan gagasan ekonomi kerakyatan demi peningkatan kesejahteraan rakyat pedesaan. Negara, katanya, perlu melakukan investasi besar untuk menghancurkan sisa-sisa feodalisme dan kolonialisme yang terus membelenggu rakyat pedesaan.

Sarbini juga menganjurkan berbagai langkah modernisasi dalam bidang pertanian. Industrialisasi keraykatan yang mencakup semua sektor kehidupan desa, seperti pertanian, perikanan, perdagangan, angkutan, perbankan, dll. perlu dibangun untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat desa.

Sarbini yakin bahwa bila pembangunan rakyat pedesaan ini dapat dilaksanakan, maka cita-cita peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia akan tercapai, sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri republik ini, yaitu Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Sjahrir.

Sarbini ingin meneruskan cita-cita Partai Sosialis Indonesia dalam menegakkan sosialisme kerakyatan sebagai alternatif terhadap sistem kapitalisme yang dianggapnya merongrong kehidupan bangsa Indonesia.

Kematian
Prof. Sarbini meninggal dunia pada 13 Maret 2007 setelah hampir seminggu dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina setelah menderita tipus dan infeksi lambung. Dokter yang merawatnya mengatakan bahwa ia meninggal dunia karena gagal jantung. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta, pada 14 Maret 2007.

Keluarga
Salah seorang menantu Prof. Sarbini adalah Hariman Siregar, seorang tokoh Malari.

Sumber

Djoko Suyanto



Marsekal TNI (Purn.) Djoko Suyanto (lahir di Madiun, Jawa Timur, 2 Desember 1950; umur 61 tahun) adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia sejak 22 Oktober 2009. Sebelumnya ia pernah menjabat Panglima Tentara Nasional Indonesia dari 13 Februari 2006 sampai 28 Desember 2007. Ia digantikan oleh Jenderal TNI Djoko Santoso. Ia mulai menjabat sejak dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 13 Februari 2006 dan serah terima jabatan dari Jenderal TNI Endriartono Sutarto pada 20 Februari 2006. Dari 23 Februari 2005 hingga 13 Februari 2006, ia adalah Kepala Staf TNI Angkatan Udara (TNI-AU). Ia juga merupakan Panglima TNI pertama yang berasal dari kesatuan TNI-AU sepanjang sejarah Indonesia.

Suyanto adalah lulusan Akabri (di Akademi Angkatan Udara) tahun 1973, sama dengan Laksamana Slamet Soebijanto (Kepala Staf Angkatan Laut), Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto, Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen Endang Suwarya, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia adalah penerbang pesawat tempur F-5 Tiger II yang berpangkalan di Pangkalan Udara TNI-AU Iswahyudi, Madiun.

Suyanto pernah mengikuti kursus di USAF Fighter Weapon Instructor School di Pangkalan Udara Nellis, Las Vegas, Nevada. Ia kemudian berturut-turut menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 14, Komandan Lanud Iswahyudi, Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional, Komandan Komando Pendidikan TNI-AU, Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Udara, dan kemudian Kepala Staf TNI-AU sebelum akhirnya menjadi Panglima TNI.

Setelah lulus proses fit & proper test di DPR, Djoko dilantik sebagai Panglima TNI oleh Presiden pada 13 Februari 2006.

Dua pekerjaan rumah bagi Djoko Suyanto adalah perihal kesejahteraan prajurit seiring dengan banyaknya tuntutan agar TNI melepaskan semua bisnis-nya kepada pemerintah dan persoalan pro dan kontra hak pilih TNI pada pemilihan umum tahun 2009.

Sumber

Joan Voûte

Voûte dilahirkan di Madiun, Jawa Timur dari sebuah keluarga Huguenot. Ia belajar teknik sipil di Delft, tetapi saat menjadi siswa tertarik pada astronomi—mempelajari bintang variabel. Setelah lulus ia menjadi staf di Observatorium Leiden, dengan bidang kajian pada studi bintang ganda. Pada 1913 ia memperoleh posisi di Observatorium Cape, Afrika Selatan, dengan bidang kajian bintang ganda dan pengukuran paralaks. Ia menjadi anggota Fellow of the Royal Society pada 1917. Perhitungan awalnya mengenai paralaks Proxima Centauri dipublikasikan pada 1917, menunjukkan bahwa Proxima memiliki jarak yang sama dengan sistem Alpha Centauri dari Matahari.

Ia kembali ke Jawa pada 1919, bekerja sebagai asisten di observatorium meteorologi dan magnetik Weltevreden. Beberapa kolega kaya di sini kemudian mengajaknya bergabung untuk pembangunan sebuah observatorium bintang. Voûte memilih sebuah tempat di utara Bandung pada ketinggian 1300 meter dari permukaan laut untuk lokasi observatorium. Voûte kemudian menjadi direktur pertama observatorium yang kini dikenal sebagai Observatorium Bosscha dengan instrumen utama teleskop refraktor ganda Zeiss 60 cm. Pekerjaan utama observatorium adalah pada studi bintang ganda, pengukuran paralaks, fotometri bintang variabel dan gugus bintang, yang hasilnya dipublikasikan dalam Lembang Observatory Annals.

Pada saat pendudukan Jepang, Voûte ikut ditahan. Penahanan membuat kesehatannya menurun, dan seusai perang ia pindah ke Australia, dan kemudian bermukim di Den Haag, Belanda, hingga akhir hayatnya pada 1963.

Sumber

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes