Tempat Berbelanja Oleh-oleh Khas Karesidenan Madiun ( Ngawi - Ponorogo - Pacitan - Madiun - Magetan)
Showing posts with label ngawi. Show all posts
Showing posts with label ngawi. Show all posts

Friday, July 15, 2011

Waduk Pondok

  

  

  

Tawun

  

  

  

  

  

Srambang

  

 

Sri Gati

  

  

  

Kebun Teh Jamus

 

   

  >

Thursday, July 14, 2011

SMASA SEO CONTEST 2011

50th Anniversary SMAN 1 Magetan


Dalam rangka HUT SMA Negeri 1 Magetan yang ke-50 tahun, selain diadakan berbagai macam lomba juga ada SEO. Selain menarik karena diikuti hanya oleh pelajar, daya tarik lain adalah bahwa pelajar yang bisa mengikuti lomba ini adalah pelajar di wilayah Madiun, Magetan, Ponorogo dan Ngawi.
Daripada bingung mending langsung aja ke sini

Wednesday, June 23, 2010

Ibu Jadi Tersangka

Bayi Telantar di Keniten Diduga Hendak Dibuang
NGAWI - Polisi bergerak cepat mengungkap motif kasus penelantaran bayi di rumah kosong di Desa Keniten Geneng. Hasil investigasi dan olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan petugas, NL (19), ibu kandung di bayi, sengaja menelantarkan buah hatinya. Hal itu dilakukan untuk menutupi aib keluarga atas kelahiran bayi perempuan yang kini masih menjalani perawatan di RSUD Soeroto ini.

NL diduga nekat melakukan itu karena bayi yang dilahirkan hasil hubungan gelap dengan pacar. ''Setelah dilakukan pemeriksaan oleh PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak, Red), NL kami tetapkan sebagai tersangka,'' terang Kasat Reskrim AKP Sujarwanto mendampingi Kapolres Ngawi AKBP Budi Sajidin.

Bukti penelantaran itu, lanjut Sujarwanto, juga berdasar pada barang bukti yang ditemukan di TKP. Yakni, kardus bekas softdrink yang digunakan untuk menaruh sang jabang bayi. Disinyalir, bayi yang berbobot 3,1 kilogram itu hendak dibuang oleh NL. ''Yang pasti, motif utamanya takut sama orang tua dan masyarakat. Sebab melahirkan di luar nikah,'' ungkapnya.

Atas tindakannya, NL akan dijerat dengan pasal 77 UU Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002. Ancaman hukuman yang dikenakan mencapai lima tahun penjara. NL sendiri masih menjalani perawatan medis pasca melahirkan. ''Proses hukum menunggu pemulihan kesehatan NL,'' tuturnya.

Sementara itu, bayi yang ditelantarkan NL mengundang simpati berbagai kalangan. Bahkan, tak sedikit yang menawarkan diri untuk mengadopsi bayi yang masih di ruang isolasi RSUD Soeroto ini. ''Memang ada yang mengubungi kepolisian ingin mengadopsinya. Hanya saja, sejauh ini kami masih fokus pada pemeriksaan terlebih dahulu,'' ungkap Sujarwanto.

Kondisi kesehatan si jabang bayi sendiri, kata dokter spesialis anak RSUD Siswanto Basuki, mulai membaik. Bayi perempuan dengan panjang 50 sentimeter itu sempat mengalami infeksi saluran pernafasan. Hal itu dampak proses kelahiran yang tanpa bantuan medis. ''Sudah membaik, dua-tiga hari ke depan kemungkinan besar sudah seperti bayi normal lainnya,'' ujarnya kepada wartawan. (dip/isd)
-
sumber : radar madiun

Melahirkan di Luar Nikah, Sembunyikan Bayi

NGAWI - Ini merupakan akibat dari pergaulan bebas. NL, 19, warga Desa Keniten Geneng tega menyembunyikan buah hati yang baru saja dilahirkan di rumah kosong. Di sinyalir bayi berjenis perempuan itu akan dibuang untuk menutupi aib keluaraga. Itu lantaran kehamilan NL sendiri tanpa sepengetahuan orang tua.

Jabang bayi yang masih memerah itu ditemukan warga sekitar dalam keadaan tali pusar terurai. Selanjutnya, bayi tersebut dibawa ke puskesmas setempat untuk menjalani perawatan medis. Karena kondisi kesehatan yang memprihatinkan, bayi dengan berat 3,1 kilogram itu akhirnya dirujuk ke RSUD dr Soeroto. ''Biar tidak tahu orang tua. Sebab selama ini, keluarga tidak mengetahui kehamilan saya,'' ucap NL yang masih menjalani perawatan medis di ruang Wijaya Kusuma RSUD Soeroto.

Diceritakan, NL menjalin hubungan dengan sang kekasih berinisial RN yang merantau di Palembang sejak dua tahun silam. Kehamilan gadis yang masih lulus SMA itu sendiri tanpa sepengetahuan RN dan keluarga. Apalagi postur tubuh NL yang gemuk, tonjolan diperutnya tak begitu tampak. Selain itu, dia sering mengenakan pakaian berukuran besar.

Proses kelahirannya sendiri terbilang menarik. NL tanpa meminta bantuan dukun beranak atau bidan desa. Tapi dilakukan seorang diri di rumah kosong milik kakeknya yang berada tak jauh pemukiman warga pukul 13.00 Minggu lalu (20/6).

Bayi yang baru dilahirkannya sempat dibersihkan dengan kain. Namun, tali pusarnya masih terurai. Bayi kemudian ditaruh di kardus yang berukuran sedang. ''Setelah itu, saya pergi membersihkan diri di rumah,'' urainya.

Warga akhirnya mengetahui peristiwa itu, setelah mendengar suara bayi menangis terus menerus. Sentak kegemparan pun terjadi, melihat sesok bayi yang masih memerah. Penemuan bayi itu lantas dilaporkan ke pihak kepolisian. ''Kurang lebih dua jam pasca dilahirkan, bayi ditemukan warga,'' terang Kapolres Ngawi AKBP Budi Sajidin melalui Kapolsek Geneng AKP Partono.

Setelah ditelusuri, kepolisian menemukan NL, wanita yang telah melahirkan bayi mungil itu. Karena kondisi kesehatan yang drop pasca melahirkan, NL dibawa ke RSUD Soeroto untuk menjalani perawatan medis. Begitu pula jabang bayi yang dilahirkan. ''Kami masih melakukan pemeriksaan, belum diketahui motif yang melatarbelakangi disembunyikannya bayi tersebut,'' pungkasnya.(dip/eba)
-
sumber : radar madiun

Thursday, June 17, 2010

Desain Kaosn Ngawi


CODE PRODUCT WAENG 001


CODE PRODUCT WAENG 002


CODE PRODUCT WAENG 003

Spesifikasi:
  • Bahan Cotton Combed 20s.
  • Jahit Rantai.
  • Sablon Rubber, SW
  • Size M-4XL (tergantung stock)
  • User female and male

Saturday, May 22, 2010

Wedang Cemue Ngawi

Bahan:
  • 500 ml santan encer
  • 3 helai roti tawar, potong persegi
  • Kacang bawang ato klici
  • 1 bawang merah iris halus
  • 5 cm jahe digeprak
  • 3 sdm gula pasir (bisa ditambah menurut selera)
  • Vanili
  • Kayu manis (bisa juga memakai daun pandan)
  • Garam

Cara membuat:
  1. Didihkan santan
  2. Masukkan bawang merah, jahe, kayu manis, gula garam, vanili, garam
  3. Biarkan sampai beberapa saat hingga tercium aroma2
Cara menyajikan:
tuang ke mangkok/gelas, lalu masukkan potongan roti tawar dan kacang bawang.

Tepo Tahu Ngawi

Bahan:
  1. Tahu potong2 dadu (dibumbuin bawang putih ma garam)
  2. Telor
  3. Kecambah di rebus
  4. Daun seledri iris halus
  5. Kacang goreng
  6. Daun bawang (optional)
  7. Kerupuk
  8. Tepo/lontong potong2

Bahan kuah:
  1. Bawang putih
  2. Cabe rawit
  3. Kecap manis
  4. Air matang

Cara Membuat:
  1. Tahu bisa digoreng bareng ma kocokan telor yang ditambah irisan daun bawang; ato digoreng tersendiri, telornya diceplok
  2. Haluskan bawang putih yang sudah digoreng sebentar dan cabe rawit; tambahkan kecap dan air secukupnya.
  3. Penyajiannya: taruh tepo/lontong, diatasnya ditaruh gorengan tahu lalu kecambah yang sudah dicampur dengan irisan daun seledri.
  4. Siramkan kuahnya, taburkan kacang goreng dan remetan kerupuk.

Friday, May 21, 2010

Situs Purbakala Trinil

rinil adalah situs paleoantropologi di Indonesia yang sedikit lebih kecil dari situs Sangiran. Tempat ini terletak di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur (kira-kira 13 km sebelum kota Ngawi dari arah kota Solo). Trinil merupakan kawasan di lembah Sungai Bengawan Solo yang menjadi hunian kehidupan purba, tepatnya zaman Plistosen Tengah, sekitar satu juta tahun lalu.

Pada tahun 1891 Eugène Dubois, yang adalah seorang ahli anatomi menemukan bekas manusia purba pertama di luar Eropa yaitu spesimen manusia Jawa. Pada 1893 Dubois menemukan fosil manusia purba Pithecanthropus erectus serta fosil hewan dan tumbuhan purba lain.

Saat ini Trinil berdiri sebuah museum yang menempati area seluas tiga hektar, dimana koleksinya di antaranya fosil tengkorak Pithecantrophus erectus, fosil tulang rahang bawah macan purba (Felis tigris), fosil gading dan gigi geraham atas gajah purba (Stegodon trigonocephalus), dan fosil tanduk banteng purba (Bibos palaeosondaicus). Situs ini dibangun atas prakarsa dari Prof. Teuku Jacob ahli antropologi dari Universitas Gadjah Mada.

Air Terjun Srambang

Srambang meupakan salah satu obyek wisata di Kabupaten Ngawi yang berupa air terjun. Berlokasi di kaki gunung Lawu, Kecamatan Jogorogo, sekitar 5 km ke selatan dari pasar Jogorogo. Ketinggian air terjun ini hampir mencapai 25 m.

Merupakan obyek wisata yang sering dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah. Suasana pegunungan yang sejuk dan dingin membuat tempat ini selalu ramai dikunjungi pengunjung. Areal jalan menuju lokasi sudah diaspal sehingga mempermudah perjalanan. Lokasi air terjun srambang berdekatan dengan pondok pesantren Condro Mowo. Jika anda membawa kendaraan sepeda motor anda bisa langsung menuju lokasi tanpa harus berjalan kaki dan anda tidak usah khawatir untuk masalah keamanan karena sudah disediakan area parkir walaupun tidak begitu luas. Namun jika anda membawa mobil, anda harus berjalan kaki sekitar 500 m untuk bisa sampai ke lokasi air terjun. Hanya dengan uang sebesar Rp. 1500,- (saat tulisan ini dibuat/Februari 2008) anda bisa menikmati sejuknya suasana gunung dan merasakan segarnya air terjun bila mau berbasah-basah dengan air. Pengunjung bisa mandi dan menikmati makanan dan minuman maupun jagung bakar di lokasi air terjun. Banyak pedagang yang menjajakan makanan dan minuman hangat. Batas waktu kunjungan adalah sampai jam 3 sore. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya longsor di areal air terjun, terlebih di musim hujan, banyak pacet dan rawan longsor.

Lokasi Wisata Kabupaten Ngawi

  1. Tawun
  2. Waduk Pondok
  3. Air terjun Srambang
  4. Kebun Teh Jamus
  5. Bendungan Ndorjo
  6. Situs Purbakala Trinil
  7. Benteng Pendem

Kecamatan Kabupaten Ngawi

• Bringin
• Geneng
• Jogorogo
• Karanganyar
• Karangjati
• Kedunggalar
• Kendal
• Kendungan
• Kwadungan
• Mantingan
• Ngawi
• Ngrambe
• Padas
• Pangkur
• Paron
• Pitu
• Sine
• Widodaren
• Kasreman
• Gerih

Sejarah Kabupaten Ngawi

A. ASAL- USUL NAMA NGAWI
Nama ngawi berasal dari “awi” atau “bambu” yang selanjutnya mendapat tambahan huruf sengau “ng” menjadi “ngawi”. Apabila diperhatikan, di Indonesia khususnya jawa, banyak sekali nama-nama tempat (desa) yang dikaitkan dengan flora, seperti : Ciawi, Waringin Pitu, Pelem, Pakis, Manggis dan lain-lain.

Demikian pula halnya dengan ngawi yang berasal dari “awi” menunjukkan suatu tempat yaitu sekitar pinggir ”Bengawan Solo” dan ”Bengawan Madiun” yang banyak tumbuh pohon “awi”. Tumbuhan “awi” atau “bambu” mempunyai arti yang sangat bernilai, yaitu :

  1. Dalam kehidupan sehari-hari Bambu bagi masyarakat desa mempunyai peranan penting apalagi dalam masa pembangunan ini.
  2. Dalam Agama Budha , hutan bambu merupakan tempat suci :
    • Raja Ajatasatru setelah memeluk agama Budha, ia menghadiahkan sebuah ” hutan yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan bambu” kepada sang Budha Gautama.
    • Candi Ngawen dan Candi Mendut yang disebut sebagai Wenu Wana Mandira atau Candi Hutan Bambu (Temple Of The Bamboo Grove), keduanya merupakan bangunan suci Agama Budha.

  3. Pohon Bambu dalam Karya Sastra yang indah juga mampu menimbulkan inspirasi pengandaian yang menggetarkan jiwa.

  4. Dalam Kakawin Siwara Trikalpa karya Pujangga Majapahit ”Empu Tanakung” disebut pada canto (Nyanyian) 6 Bait 1 dan 2, yang apabila diterjemahkan dalam bahasa indonesia, lebih kurang mempunyai arti sebagai berikut :
    • Kemudian menjadi siang dan matahari menghalau kabut, semua kayu-kayuan yang indah gemulai mulai terbuka, burung-burung gembira diatas dahan saling bersaut – sautan bagaikan pertemuan Ahli Kebatinan (Esoteric Truth) saling berdebat.
    • Saling bercinta bagaikan kayu – kayuan yang sedang berbunga, pohon bambu membuka kainnya dan tanaman Jangga saling berpelukan serta menghisap sari bunga Rara Malayu, bergerak-gerak mendesah, Pohon Bambu saling berciuman dangan mesranya.

  5. ”awi” atau ”bambu” dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia mempunyai nilai sejarah, yaitu dalam bentuk ”bambu runcing” yang menjadi salah satu senjata untuk melawan dan mengusir penjajah yang tenyata senjata dari ”bambu” ini ditakuti dari pihak lawan (digambarkan yang ”terkena” akan menderita sakit cukup lama dan ngeri).
Pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia ini ada juga ”bambu runcing” yang dikenal dan disebut dengan ”Geranggang Parakan”. Dengan demikian jelaslah bahwa ”ngawi” berasal dari ”awi” atau ”bambu”, Sekaligus menunjukkan lokasi Ngawi sebagai ”desa” di pinggir Bengawan Solo dan Bengawan Madiun.

B. PENETAPAN HARI JADI NGAWI
Berdasarkan penelitian benda-benda kuno, menunjukkan bahwa di Ngawi telah berlangsung suatu aktifitas keagamaan sejak pemerintahan Airlangga dan rupanya masih tetap bertahan hingga masa akhir Pemerintahan Raja Majapahit. Fragmen-fragmen Percandian menunjukkan sifat kesiwaan yang erat hubungannya dengan pemujaan Gunung Lawu (Girindra), namun dalam perjalanan selanjutnya terjadi pergeseran oleh pengaruh masuknya Agama Islam serta kebudayaan yang dibawa Bangsa Eropa khususnya belanda yang cukup lama menguasai pemerintahan di Indonesia, disamping itu Ngawi sejak jaman prasejarah mempunyai peranan penting dalam lalu lintas (memiliki posisi Geostrategis yang sangat penting).

Dari 44 desa penambangan yang mampu berkembang terus dan berhasil meningkatkan statusnya menjadi Kabupaten Ngawi sampai dengan sekarang.

Penelitian terhadap peninggalan benda-benda kuno dan dokumen sejarah menunjukkan beberapa status Ngawi dalam perjalanan sejarahnya :
  1. Ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira pradesa, pada jaman Pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Majapahit) tepatnya tanggal 7 Juli 1358 Masehi, (tersebut dalam Prasati Canggu yang berangka Tahun Saka 1280)
  2. Ngawi sebagai Daerah Narawita Sultan Yogyakarta dengan Palungguh Bupati – Wedono Monconegoro Wetan, tepatnya tanggal 10 Nopember 1828 M (tersebut dalam surat Piagam Sultan Hamengkubuwono V tertanggal 2 Jumadil awal 1756 AJ).
  3. Ngawi sebagai Onder-Regentschap yang dikepalai oleh Onder Regent (Bupati Anom) Raden Ngabehi Sumodigdo, tepatnya tertanggal 31 Agustus 1830 M.
Nama Van Den Bosch berkaitan dengan nama ”Benteng Van Den Bosch Di Ngawi, yang dibangun pada Tahun 1839 – 1845 untuk menghadapi kelanjutan Perjuangan Perlawanan dan serangan rakyat terhadap penjajah, diantaranya di ngawi yang dipimpin oleh Wirotani, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Hal ini dapat diketahui dari buku ”De Java Oorlog” karangan Pjf. Louw Jilid I Tahun 1894 dengan sebutan (menurut sebutan dari penjajah) : ”Tentang Pemberontakan Wirotani di Ngawi”. Bersamaan dengan ketetapan ngawi sebagai Onder – Regentschap telah ditetapkan pembentukan 8 regentschap atau Kabupaten dalam wilayah Ex. Karesidenan Madiun akan tetapi hanya 2 regentschap saja yang mampu bertahan dan berstatus sebagai Kabupaten yaitu Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan. Adapun Ngawi yang berstatus sebagai Onder – Regentschap dinaikkan menjadi regentschap atau kabupaten, karena disamping letak geografisnya sangat menguntungkan juga memiliki potensi yang cukup memadai.

  • Ngawi sebagai regentschap yang dikepalai oleh Regent Atau Bupati Raden Adipati Kertonegoro pada tahun 1834 (Almanak Naam Den Gregoriaanschen Stijl, Vor Het Jaar Na De Geboorte Van Jezus Christus,1834 Halaman 31)


  • Dari hasil penelitian tersebut di atas, apabila hari jadi ngawi ditetapkan pada saat berdirinya Onder – Regentschap pada tanggal 31 Agustus 1830 berarti akan memperingati berdirinya pemerintahan penjajahan di Ngawi, dan tidak mengakui kenyataan statusnya yang sudah ada sebelum masa penjajahan.

    Dari penelusuran 4 (empat) status Ngawi di atas, Prasati Canggu yang merupakan sumber data tertua, digunakan sebagai penetapan hari jadi ngawi, yaitu pada tahun 1280 Saka atau pada tanggal 8 hari Sabtu Legi Bulan Rajab Tahun 1280 Saka, tepatnya pada tanggal 7 Juli 1358 Masehi (berdasarkan perhitungan menurut Lc. Damais) dengan status ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira Pradesa.

    Sesuai dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ngawi dalam Surat Keputusannya Nomor 188.170/34/1986 tanggal 31 Desember 1986 tentang Persetujuan Terhadap Usulan Penetapan Hari Jadi Ngawi maka berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ngawi Nomor 04 Tahun 1987 tanggal 14 Januari 1987, Tanggal 7 Juli 1358 Masehi Ditetapkan Sebagai ”Hari Jadi Ngawi”.

    Sekilas Tentang Ngawi

    Kabupaten Ngawi adalah sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Ngawi. Kota kabupaten ini terletak di bagian barat Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Kata Ngawi berasal dari kata awi, bahasa sansekerta yang berarti bambu dan mendapat imbuhan kata ng sehingga menjadi Ngawi. Dulu Ngawi banyak terdapat pohon bambu.

    Wilayah
    Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora (keduanya termasuk wilayah Provinsi Jawa Tengah), dan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Madiun di timur, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun di selatan, serta Kabupaten Sragen (Jawa Tengah) di barat.

    Kabupaten Ngawi terdiri atas 19 kecamatan yang terbagi dalam sejumlah 213 desa dan 4 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Ngawi.

    Bagian utara merupakan perbukitan, bagian dari Pegunungan Kendeng. Bagian barat daya adalah kawasan pegunungan, bagian dari sistem Gunung Lawu (3.265 meter).

    Transportasi
    Kabupaten Ngawi dilintasi jalur utama Surabaya-Yogyakarta, jalur utama Cepu, Bojonegoro-Madiun dan menjadi gerbang utama Jawa Timur jalur selatan. Kabupaten ini juga dilintasi jalur kereta api Jakarta-Yogyakarta-Bandung/Jakarta, namun tidak melewati ibukota kabupaten. Stasiun kereta api terdapat di Geneng, Paron, Kedunggalar dan Walikukun.


    Transportasi
    Pondok Pesantren Gontor Putri 1 dan Pondok Pesantren Gontor Putri 2 dan 3 terdapat di Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, yakni di dekat perbatasan dengan Jawa Tengah.

    SMA Negeri 1 Ngawi dan SMA Negeri 2 Ngawi adalah salah satu sekolah favorit di Kabupaten Ngawi yang mempunyai segudang kegiatan / organisasi. Sekolah ini banyak menghasilkan generasi penerus Ngawi yang tanggung dan berpotensi untuk membangun kota Ngawi. Salah satu organisasi yang paling dominan di Smada Ngawi adalah Mayapada (Manunggal Jaya Pecinta Alam Smuda) dan Pramuka.

    Terdapat Perguruan Tinggi: Universitas Soerjo Ngawi (Unsur), STKIP PGRI Ngawi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian dan Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam di Paron, serta Akademi Keperawatan. Selain itu, SMP Negeri 3 Ngrambe adalah Sekolah Menengah Pertama yang mendominasi keunggulan daripada SMP yang lain di Kabupaten Ngawi dengan segudang prestasi hingga setingkat Nasional. SMPN 3 Ngrambe (SMeGa) pada Tahun 2010 telah mencatatkan menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN) dengan fasilitas dan Pengajar yang profesional. Dengan fasilitas Internet Gratis. Dengan udara yang sejuk, diharapkan, para siswa akan lebih semangat untuk meraih prestasi.

    Thursday, May 20, 2010

    Sejarah Kabupaten Ngawi

    A. ASAL- USUL NAMA NGAWI
    Nama ngawi berasal dari “awi” atau “bambu” yang selanjutnya mendapat tambahan huruf sengau “ng” menjadi “ngawi”. Apabila diperhatikan, di Indonesia khususnya jawa, banyak sekali nama-nama tempat (desa) yang dikaitkan dengan flora, seperti : Ciawi, Waringin Pitu, Pelem, Pakis, Manggis dan lain-lain.

    Demikian pula halnya dengan ngawi yang berasal dari “awi” menunjukkan suatu tempat yaitu sekitar pinggir ”Bengawan Solo” dan ”Bengawan Madiun” yang banyak tumbuh pohon “awi”. Tumbuhan “awi” atau “bambu” mempunyai arti yang sangat bernilai, yaitu :

    1. Dalam kehidupan sehari-hari Bambu bagi masyarakat desa mempunyai peranan penting apalagi dalam masa pembangunan ini.
    2. Dalam Agama Budha , hutan bambu merupakan tempat suci :
    • Raja Ajatasatru setelah memeluk agama Budha, ia menghadiahkan sebuah ” hutan yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan bambu” kepada sang Budha Gautama.
    • Candi Ngawen dan Candi Mendut yang disebut sebagai Wenu Wana Mandira atau Candi Hutan Bambu (Temple Of The Bamboo Grove), keduanya merupakan bangunan suci Agama Budha.

    3. Pohon Bambu dalam Karya Sastra yang indah juga mampu menimbulkan inspirasi pengandaian yang menggetarkan jiwa.

    Dalam Kakawin Siwara Trikalpa karya Pujangga Majapahit ”Empu Tanakung” disebut pada canto (Nyanyian) 6 Bait 1 dan 2, yang apabila diterjemahkan dalam bahasa indonesia, lebih kurang mempunyai arti sebagai berikut :
    • Kemudian menjadi siang dan matahari menghalau kabut, semua kayu-kayuan yang indah gemulai mulai terbuka, burung-burung gembira diatas dahan saling bersaut – sautan bagaikan pertemuan Ahli Kebatinan (Esoteric Truth) saling berdebat.
    • Saling bercinta bagaikan kayu – kayuan yang sedang berbunga, pohon bambu membuka kainnya dan tanaman Jangga saling berpelukan serta menghisap sari bunga Rara Malayu, bergerak-gerak mendesah, Pohon Bambu saling berciuman dangan mesranya.

    4. ”awi” atau ”bambu” dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia mempunyai nilai sejarah, yaitu dalam bentuk ”bambu runcing” yang menjadi salah satu senjata untuk melawan dan mengusir penjajah yang tenyata senjata dari ”bambu” ini ditakuti dari pihak lawan (digambarkan yang ”terkena” akan menderita sakit cukup lama dan ngeri).

    Pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia ini ada juga ”bambu runcing” yang dikenal dan disebut dengan ”Geranggang Parakan”. Dengan demikian jelaslah bahwa ”ngawi” berasal dari ”awi” atau ”bambu”, Sekaligus menunjukkan lokasi Ngawi sebagai ”desa” di pinggir Bengawan Solo dan Bengawan Madiun.

    B. PENETAPAN HARI JADI NGAWI
    Berdasarkan penelitian benda-benda kuno, menunjukkan bahwa di Ngawi telah berlangsung suatu aktifitas keagamaan sejak pemerintahan Airlangga dan rupanya masih tetap bertahan hingga masa akhir Pemerintahan Raja Majapahit. Fragmen-fragmen Percandian menunjukkan sifat kesiwaan yang erat hubungannya dengan pemujaan Gunung Lawu (Girindra), namun dalam perjalanan selanjutnya terjadi pergeseran oleh pengaruh masuknya Agama Islam serta kebudayaan yang dibawa Bangsa Eropa khususnya belanda yang cukup lama menguasai pemerintahan di Indonesia, disamping itu Ngawi sejak jaman prasejarah mempunyai peranan penting dalam lalu lintas (memiliki posisi Geostrategis yang sangat penting).

    Dari 44 desa penambangan yang mampu berkembang terus dan berhasil meningkatkan statusnya menjadi Kabupaten Ngawi sampai dengan sekarang.

    Penelitian terhadap peninggalan benda-benda kuno dan dokumen sejarah menunjukkan beberapa status Ngawi dalam perjalanan sejarahnya :

    1. Ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira pradesa, pada jaman Pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Majapahit) tepatnya tanggal 7 Juli 1358 Masehi, (tersebut dalam Prasati Canggu yang berangka Tahun Saka 1280)

    2. Ngawi sebagai Daerah Narawita Sultan Yogyakarta dengan Palungguh Bupati – Wedono Monconegoro Wetan, tepatnya tanggal 10 Nopember 1828 M (tersebut dalam surat Piagam Sultan Hamengkubuwono V tertanggal 2 Jumadil awal 1756 AJ).

    3. Ngawi sebagai Onder-Regentschap yang dikepalai oleh Onder Regent (Bupati Anom) Raden Ngabehi Sumodigdo, tepatnya tertanggal 31 Agustus 1830 M.

    Nama Van Den Bosch berkaitan dengan nama ”Benteng Van Den Bosch Di Ngawi, yang dibangun pada Tahun 1839 – 1845 untuk menghadapi kelanjutan Perjuangan Perlawanan dan serangan rakyat terhadap penjajah, diantaranya di ngawi yang dipimpin oleh Wirotani, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Hal ini dapat diketahui dari buku ”De Java Oorlog” karangan Pjf. Louw Jilid I Tahun 1894 dengan sebutan (menurut sebutan dari penjajah) : ”Tentang Pemberontakan Wirotani di Ngawi”. Bersamaan dengan ketetapan ngawi sebagai Onder – Regentschap telah ditetapkan pembentukan 8 regentschap atau Kabupaten dalam wilayah Ex. Karesidenan Madiun akan tetapi hanya 2 regentschap saja yang mampu bertahan dan berstatus sebagai Kabupaten yaitu Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan. Adapun Ngawi yang berstatus sebagai Onder – Regentschap dinaikkan menjadi regentschap atau kabupaten, karena disamping letak geografisnya sangat menguntungkan juga memiliki potensi ynag cukup memadai.

    4. Ngawi sebagai regentschap yang dikepalai oleh Regent Atau Bupati Raden Adipati Kertonegoro pada tahun 1834 (Almanak Naam Den Gregoriaanschen Stijl, Vor Het Jaar Na De Geboorte Van Jezus Christus,1834 Halaman 31)

    Dari hasil penelitian tersebut di atas, apabila hari jadi ngawi ditetapkan pada saat berdirinya Onder – Regentschap pada tanggal 31 Agustus 1830 berarti akan memperingati berdirinya pemerintahan penjajahan di Ngawi, dan tidak mengakui kenyataan statusnya yang sudah ada sebelum masa penjajahan.

    Dari penelusuran 4 (empat) status Ngawi di atas, Prasati Canggu yang merupakan sumber data tertua, digunakan sebagai penetapan hari jadi ngawi, yaitu pada tahun 1280 Saka atau pada tanggal 8 hari Sabtu Legi Bulan Rajab Tahun 1280 Saka, tepatnya pada tanggal 7 Juli 1358 Masehi (berdasarkan perhitungan menurut Lc. Damais) dengan status ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira Pradesa.

    Sesuai dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ngawi dalam Surat Keputusannya Nomor 188.170/34/1986 tanggal 31 Desember 1986 tentang Persetujuan Terhadap Usulan Penetapan Hari Jadi Ngawi maka berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ngawi Nomor 04 Tahun 1987 tanggal 14 Januari 1987, Tanggal 7 Juli 1358 Masehi Ditetapkan Sebagai ”Hari Jadi Ngawi”.

     
    Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes